LMS-SPADA INDONESIA

Matakuliah ini merupakan salah satu mata kuliah wajib untuk memberikan pemahaman mengenai pengembangan kurikulum bagi para mahasiswa, baik secara teoretis maupun praktiknya di institusi pendidikan. Dalam mata kuliah ini dibahas mengenai berbagai aspek dan prosedur dalam pengembangan kurikulum. Aspek pengembangan kurikulum meliputi konsep dan teori kurikulum; landasan dan prinsip pengembangan kurikulum; anatomi dan desain kurikulum; model-model pengembangan kurikulum. Prosedur pengembangan kurikulum meliputi analisis kebutuhan kurikulum, perancangan kurikulum, sosialisasi kurikulum, implementasi kurikulum, monitoring dan pengendalian kurikulum, serta evaluasi dan penyempurnaan kurikulum.
S1 : Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
S2 : Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika;
S3 : Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
S8 :
Menjaga pola hidup, taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
S10 : Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;
P2 : Konsep teoretis teknologi pendidikan secara mendalam
meliputi aspek perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi teknologi pendidikan);
KU1 : Menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi IPTEK yang memperhatikan dan
menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan bidang keahlian teknologi pendidikan, kurikulum dan pembelajaran;
KU5: Mengambil keputusan secara tepat dalam konteks penyelesaian masalah dibidang keahlian teknologi pendidikan , kurikulum dan pembelajaran berdasarkan hasil analisis
informasi dan latar;
KK1 : Memformulasikan penyelesaian masalah prosedural khususnya dalam bidang teknologi pendidikan Melalui analisis teori pendidikan,
kurikulum dan pembelajaran secara umum.
S1 : Menunjukkan sikap religi
S2 : Memiliki toleransi terhadap teman lain
S3 : Menunjukkan sikap dan perilaku yang baik dan beretika
S8 : Memiliki kedisiplinan dan taat hukum terhdap peraturan yang disepakati dalam proses pembelajaran
S10
: Memiliki sikap tanggungjawab terhadap tugas dan peran yang diberikan sebagai mahasiswa dan calon teknolog pendidikan
P2 : Konsep teoretis teknologi pendidikan secara mendalam meliputi aspek perancangan, pengembangan,
pemanfaatan, pengelolaan,
dan evaluasi teknologi pendidikan
KU1 : Mengembangkan kemampuan menulis ilmiah berdasarkan hasil kajian pustaka dan kajian lapangan
KU5 : Mengelola dan memelihara jejaring dibidang kepustakawanan dengan perpustakaan yang ada di lingkungan
sekitar
KK5 : Menyelesaikan permasalahan Melalui analisis teori tentang kajian etika profesi teknologi pendidikan
Perkulihan dilaksanakan secara daring (online) sebanyak atau setara dengan 16 kali pertemuan termasuk ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS). Dalam pembelajaran daring ini mahasiswa didorong untuk lebih aktif baik dalam kegiatan di ruang belajar tatap maya (sinkronus) maupun dalam kegiatan di ruang belajar mandiri dan kelompok (asinkronus) seperti pencarian informasi yang berhubungan dengan materi perkuliahan, mengerjakan kuis, dan mengerjakan penugasan-penugasan lain baik bersifat individu maupun kelompok.
Abdullah, A. (2007). Kurikulum pendidikan di Indonesia sepanjang sejarah
(Suatu tinjauan kritis filosofis). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 13(66),
340-361.
Adams, J. (2000). Taking
charge of curriculum: Teacher networks and curriculum implementation. Teachers College Press.
Akker, J. J. V. D. (1988). The teacher as learner in curriculum implementation. Journal of
curriculum studies, 20(1), 47-55.
Ashcroft, K., & Palacio, D. (2014). Researching into assessment
& evaluation. Routledge.
Beauchamp, G. A.
(1972). Basic components of a curriculum theory. Curriculum Theory Network,
3(10), 16-22.
Bharvad, A. J. (2010). Curriculum evaluation. International Research
Journal, 1(12), 72-74.
Bocanegra-Valle, A. (2016). Needs analysis for curriculum design. In The Routledge handbook of English
for academic purposes (pp. 584-600). Routledge.
Crockenberg, S. B., & Bryant, B. K. (1978). Socialization: The
implicit curriculum of learning environments. Journal of Research &
Development in Education.
Hamalik, O. (1990). Pengembangan
Kurikulum: Dasar-dasar dan Pengembangannya, Bandung: Mandar Maju.
Hamalik, O. (2000). Model-model Pengembangan Kurikulum. Bandung: Program Pasca Sarjana
Universitas Pendidikan Indonesia.
Hasan, S. H.
(1988). Evluasi Kurikulum. Jakarta:
P2LPTK.
Hasan, S. H. (2019). Perkembangan Kurikulum: Perkembangan Ideologis dan
Teoritik Pedagogis (1950–2005). dalam www. geocities.
ws/konferensinasionalsejarah/s _hamid_hasan. Pdf
Henson, K. T. (2015). Curriculum planning: Integrating multiculturalism, constructivism,
and education reform. Waveland Press.
Hernawan, Asep
Herry. (2006). Pengembangan Silabus dan
Satuan Pembelajaran: Makalah Pelatihan Pengembangan Kurikulum bagi Guru.
Bandung.
Hughes, P. (2001) The monitoring and evaluation of curriculum reforms. In Final Report of the
Muscat Seminar on the Management of Curriculum Adaptation for Curriculum
Specialists in the Persian Gulf Region (pp. 53-59).
Johnson, R. K., & Johnson, R. K. (Eds.). (1989). The second
language curriculum. Cambridge University Press.
Kelly, A. V.
(2009). The curriculum: Theory and practice. Sage.
Klenowski, V.
(2010). Curriculum evaluation: Approaches and methodologies. International
Enclyclopedia of Education, 1, 335-341.
Lunenburg, F. C. (2011). Curriculum development: Inductive models. Schooling, 2(1), 1-8.
Manurung, L.
(2019). Sejarah Kurikulum di Indonesia. JURNAL ILMIAH WAHANA PENDIDIKAN, 5(2),
88-95.
Ornstein, Allan
c. and Francis P. Hunkins. (1988). Curriculum:
Foundations, Principles, and Issues. Boston: Allyn and Bacon.
Pinar, William
F. (2004). What Is Curriculum Theory?.
London: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Sanjaya, Wina.
(2008). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori
dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Saylor, J.
Galen; Alexander, William M.: dan Lewis, Arthur J. (1974). Curriculum Planning For Better Teaching and Learning. New York:
Holt Rinehart and Winston.
Slattery, P. (2013). Curriculum development in the postmodern era:
Teaching and learning in an age of accountability. Routledge.
Sudjana, Nana.
(1989). Pembinaan dan Pengembangan
Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru.
Suderadjat, H. (2004). Implementasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK): Pembaharuan
pendidikan dalam Undang-Undang Sisdiknas 2003. Cipta Cekas Grafika.
Sukmadinata, Nana Syaodih . (1988). Prinsip dan landasan pengembangan kurikulum. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti
Sukmadinata,
Nana Syaodih . (2001). Pembaharuan Kurikulum: Teori dan Praktik.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2001). Pengembangan
Kurikulum: Teori dan Praktek.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tim Pengembang, M KDP Kurikulum dan Pembelajaran UPI. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran.
Depok: Rajagrapindo Persada
Tyler, Ralph W.
(1975). Basic Principles of Curriculum
and Instruction. C
hicago and London: The University of Chicago Press.
VanTassel-Baska, J., & Baska, A. (2019). Curriculum planning and instructional design for
gifted learners.
Sourcebooks, Inc.
Virgilio, S. J., & Virgilio, I. R. (1984). The role of the principal in curriculum
implementation.
Education, 104(4).
Wiles, J.,
Bondi, J., & Guo, H. (1989). Curriculum development: A guide to practice.
Indianapolis, Indiana: Merrill Publishing Company.
Zais, Robert S.
(1976). Curriculum: Principles and
Foundations.
New York: Harper and Row Publisher.
1. KEDUDUKAN KURIKULUM
Kurikulum merupakan salah satuh komponen yang ada dalam sistem pendidikan. Dimana kurikulum akan memberikan arah dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan proses pendidikan, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan formal. Tanpa adanya kurikulum proses pendidikan
tidak akan berjalan terarah dengan baik. Bahkan jika ditinjau dari pandangan ekstrim bisa kita katakan, jika tidak ada kurikulum maka di sekolah tidak akan ada proses pendidikan. Karena yang menentukan aktivitas proses pendidikan berupa kegiatan pembelajaran
semuanya ditentukan dalam kurikulum, tentu dengan sejumlah adaftasi dan variasi. Dengan demikian, bisa kita mengerti dan bukan hal yang berlebihan jika Beauchamp (1998) menyebutkan bahwa, “curriculum is the hearth of education”. Kurikulum adalah jantungnya
pendidikan.
2. KONSEP KURIKULUM
Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani curir = pelari dan curere= lintasan lari atau lintasan pacu. Jadi menurut asal katanya kurikulum adalah lintasan lari atau lintasan pacu tempat berlarinya para peserta dalam lomba berlari. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Pada zaman Romawi kuno kurilulum kata yang digunakan untuk lintasan pacu kereta. “Julius Caesar” sebagai kaisar Romawi pada saat itu, tidak akan menyangka jika istilah kurikulum akan berkembang menjadi istilah rumit dan khas yang ada dalam bidang pendidikan seperti dewasa ini.
Beberapa pengertian kurikulum menurut para ahli, sebagai berikut :


Silahkan Anda mendengarkan Podcast mengenai Konsep Kurikulum bagian 1
Silahkan Anda mendengarkan Poadcast mengenai konsep, fungsi dan peranan kurikulum bagian 2
Cobalah cari beberapa (minimal 5 ) definisi para ahli lainnya terkait dengan konsep kurikulum, kemudian kemukakan definisi kurikulum berdasarkan pemikiran (orisinal) Anda sendiri.
Tes formatif terdiri dari 10 soal pilihan ganda dan 2 essai.
Tes ini dibuka dari tanggal 24 September sampai dengan 2 Oktober pukul 23:59.
Waktu pengerjaan soal selama 30 menit.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.
Mungkin Anda dapat membayangkan andaikata sebuah bangunan rumah yang dibangun tidak menggunakan landasan atau fondasi yang kokoh, maka ketika terjadi gempa atau goncangan sedikit saja rumah tersebut akan mudah roboh. Demikian halnya dengan kurikulum, jika dikembangkan tidak didasarkan pada landasan yang tepat dan kuat, maka kurikulum tersebut tidak bisa bertahan lama, dan bahkan dengan mudah dapat ditinggalkan oleh para penggunanya.
1. PENGERTIAN LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Robert S. Zais (1976) mengemukakan empat landasan pokok pengembangan kurikulum, yaitu: Philosophy and the nature of knowledge, society and culture, the individual, dan learnig theory. Dengan berpedoman pada empat landasan tersebut, maka perancangan dan pengembangan suatu bangunan kurikulum yaitu pengembangan tujuan (aims, goals, objective), pengembangan isi/materi (content), pengembangan proses pembelajaran (learning activities), dan pengembangan komponen evaluasi (evaluation), harus didasarkan pada landasan filosofis, psikologis, sosiologis, serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Landasan yang dipilih untuk dijadikan dasar pijakan dalam mengembangkan kurikulum sangat tergantung atau dipengaruhi oleh pandangan hidup, kultur, kebijakan poltik yang dianut oleh negara dimana kurikulum itu dikembangkan. Akan tetapi secara umum keempat landasan yang akan dibahas dalam modul ini, yaitu landasan filosofis, psikologis, sosiologis, serta landasan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah landasan umum dan pokok sebagai dasar pijakan dalam mengembangkan kurikulum.
Simaklah video dan infografis berikut ini, penjelasan singkat tentang pengertian landasan pengembangan kurikulum.

2. MODEL EKLEKTIK KURIKULUM DAN LANDASAN-LANDASANNYA
Simaklah infografis dan video berikut tentang model eklektik kurikulum dan landasan-landasannya menurut Robert Zais.

1. Landasan Filsafat
Adapun yang dimaksud dengan landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum ialah asumsi-asumsi atau rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analitis, logis dan sistematis (filosofis) dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum. Penggunaan filsafat tersebut baik dalam pengembangan kurikulum dalam bentuk program (tertulis), maupun kurikulum dalam bentuk pelaksanaan (operasional) di sekolah.
2. Landasan Psikologi
Pada dasarnya ada dua jenis psikologi yang memiliki kaitan sangat erat dan harus dijadikan sumber pemikiran dalam mengembangkan kurikulum, yaitu: Psikologi perkembangan, dan Psikologi belajar. Psikologi perkembangan adalah ilmu atau studi yang mengkaji perkembangan manusia, beserta kecenderungan prilaku yang ditunjukkannya. Adapun Psikologi belajar, adalah suatu pendekatan atau studi yang mengkaji bagaimana manusia umumnya melakukan proses belajar.
Menurut psikologi belajar, bahwa belajar diklasifikasi sebagai berikut: belajar berdasarkan keseluruhan, belajar adalah pemebentukan kepribadian, belajar berkat pemahaman, belajar berdasarkan pengalaman, belajar merupakan proses perkembangan, dan belajar adalah proses berkelanjutan.
3. Landasan Sosilogis
Pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Tyler (1946), Taba (1963) Tanner dan Tanner (1984) menyatakan tuntutan masyarakat adalah salah satu dasar dalam pengembangan kurikulum.Calhoun, Light, dan Keller (1997) memaparkan tujuh fungsi sosial pendidikan, yaitu: 1) Mengajar keterampilan, 2) Mentrasmisikan budaya, 3) Mendorong adaptasi lingkungan, 4)Membentuk kedisiplinan, 5) Mendorong bekerja berkelompok, 6) Meningkatkan perilaku etik, dan 7) Memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi.
4. Landasan IPTEK
Pengaruh dari perkembangan IPTEK ini cukup luas, meliputi segala bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, keamanan, pendidikan, dan lain sebagainya. Khususnya dalam bidang pendidikan, perkembangan teknologi industri mempunyai hubungan timbal balik dengan pendidikan. Industri dengan teknologi maju memproduksi berbagai macam alat-alat dan bahan yang secara langsung atau tidak langsung dibutuhkan dalam pendidikan. Kegiatan pendidikan membutuhkan dukungan dari penggunaan alat-alat hasil industri seperti televisi, radio, video, komputer dan peralatan lainnya. Penggunaan alat-alat yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan, apalagi disaat perkembangan produk teknologi komunikasi yang semakin canggih, tentu saja menuntut pengetahuan dan keterampilan serta kecakapan yang memadai bagi guru dan pelaksana program pendidikan lainnya.
3. KONTRIBUSI LANDASAN-LANDASAN TERHADAP KURIKULUM
Simaklah infografis dan video berikut ini, penjelasan singkat tentang kontribusi landasan-landasan terhadap kurikulum.

Untuk meningkatkan pemahaman Anda materi lebih dalam pelajarilah bahan ajar mandiri berikut ini.
Lakukan analisis yang mendalam, apa yang melandasi pengembangan kurikulum di Indonesia ? Jelaskan !
(tugas di upload dalam bentuk doc, tidak lebih dari 5 mb).
Batas pengumpulan tugas samai dengan tanggal 6 Oktober 2020, pukul 23:59.
Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen-komponen tertentu. Sistem kurikulum terbentuk oleh empat komponen, yaitu komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi pencapain tujuan dan komponen evaluasi. Sebagai suatu sistem setiap komponen harus saling bekaitan satu sama lain. Manakala salah satu komponen yang membentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainya, maka sistem kurikulum pun akan terganggu pula. Di Indonesia, komponen kurikulum tujuan, yaitu Standar Kompetensi Lulusan; komponen isi/materi terdapat pada Standar Isi; Komponen Strategi/Metode yaitu Standar Proses dan Komponen Ecaluasi yaitu Standar Penilaian.
Komponen Tujuan
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Apa sistem nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia? Ya betul, filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat Indonesia adalah Pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta tujuan tujuan yang lebih sempit seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran. Tujuan pendidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat yaitu:
1. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)
Tujuan Pendidikan Nasional atau disingkat TPN merupakan tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan, artinya setiap lembaga dan penyelenggara pendidikan harus dapat membentuk manusia yang sesuai dengan rumusan itu, baik pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal, informal maupun non formal. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang.
2. Tujuan Institusional (TI)
Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, seperti misalnya seperti misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan dan jenjang pendiudikan tinggi.
3. Tujuan Kurikuler (TK)
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Oleh sebab itu tujuan kurikuler dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan.
4. Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran (TP)
Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuer, dapat didefiniskan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran di suatu sekolah.
Isi atau materi pelajaran merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, oleh sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Bagaimanapun bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya, maka tujuan itu tidak mungkin dapat dicapai. Strategi pembelajaran digunakan untuk menerapkan teori pembelajaran untuk memperoleh hasil pembelajaran yang ditargetkan.
Strategi atau metode berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Strategi yang ditetapkan dapat berupa strategi yang menempatkan siswa sebagai pusat dari setiap kegiatan, ataupun sebaliknya. Strategi yang berpusat kepada siswa biasa dinamakan student centered; sedangkan strategi yang berpusat pada guru dinamakan teacher centered. Strategi yang bagaimana yang dapat digunakan sangat tergantung kepada tujuan dan materi kurikulum.Pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir (Oliva, 1988). Proses tersebut meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi. Merujuk pada pendapat tersebut, maka dalam konteks pengembangan kurikulum, evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan kurikulum itu sendiri. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum, sehungga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak; bagian-bagian mana yang harus disempurnakan. Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektifitas pencapaian tujuan.
Dalam konteks kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkn telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan. Kedua fungsi tersebut menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi sebagai fungsi formatif. Senada dengan pendapat Heneman (2006) bahwa kegiatan evaluasi merupaka proses formal yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan instrumen yang dipilih dan divalidasi untuk tujuan formatif dan sumatif. Evaluasi sebagai alat untuk melihyat keberhasilan pencapaian tujuan dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu tes dan non tes.
Hubungan Komponen KurikulumUntuk pembelajaran mandiri, Silahkan Anda pelajari materi-materi di bawah ini dengan seksama agar Anda lebih memahami tentang Komponen Kurikulum dan Pengembangannya. Materi yang dapat Anda pelajari terdiri dari file presentasi, video pembelaran, podcast, modul, tes dan tugas, juga diskusi. Jangan lupa mengisi kehadiran.
Semangat Belajar Mandiri
Agar dapat memperdalam pemahaman Anda terkait dengan materi Komponen Kurikulum dan Pengembangannya, silahkan Anda mempelajari bahan ajat mandiri berikut ini.
Silahkan Anda mendengarkan Podcast mengenai Komponen Kurikulum dan Pengembangannya bagian 1
Silahkan Anda mendengarkan poadcast mengenai komponen-komponen kurikulum dan pengembangannya bagian 2
Carilah dokumen kurikulum (Silabus dan RPP) salah satu jenjang pendidikan (dianjurkan sesuai dengan bidang keahlian, apabila prodi Anda bukan mata pelajaran, silahkan pilih salah satu mata pelajaran) kemudian identifikasi komponen-komponen kurikulumnya dan analisa bagaimana hubungan/keterkaitan antar komponen kurikulum dalam dokumen tersebut.
(tugas di upload dalam bentuk doc, tidak lebih dari 5 mb).
Batas pengumpulan tugas sampai dengan Selasa, 13 Oktober 2020, pukul 23:59.
Prinsip pengembangan kurikulum merupakan suatu hal yang paling fundamental dan bagian paling hakiki dari pengembangan kurikulum. Dengan kata lain, setiap orang yang membahas tentang pengembangan kurikulum selalu menggambarkan dan mensyaratkan adanya prinsip-prinsip tertentu, baik prinsip umum maupun prinsip khusus pengembangan kurikulum. Prinsip pengembangan kurikulum merupakan kemampuan dasar yang mutlak harus dimiliki setiap guru atau calon guru sebagai pengembang kurikulum.
Kata ‘prinsip’ menunjuk pada suatu hal yang sangat penting, mendasar, keyakinan, harus diperhatikan, memiliki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada situasi dan kondisi yang serupa. Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa “prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Sebuah prinsip merupakan roh dari sebuah perkembangan ataupun perubahan, dan merupakan akumulasi dari pengalaman ataupun pemaknaan oleh sebuah objek atau subjek tertentu”.
Sumber dan Tipe prinsip pengembangan kurikulum
Menurut Oliva (1992) ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu: “data empiris (empirical data), data eksperimen (experiment data), cerita/legenda yang hidup di masyarakat (folklore of curriculum), dan akal sehat (common sense)”. Data empiris menunjukkan adanya pengalaman yang terdokumentasi dan terbukti efektif. Data eksperimen berkaitan dengan temuan-temuan hasil penelitian. Data temuan hasil penelitian merupakan data yang dipandang valid dan reliabel, sehingga tingkat kebenaran dan akurasinya lebih meyakinkan untuk dijadikan prinsip dalam pengembangan kurikulum. Dalam fakta kehidupan, data hasil penelitian (hard data) itu sifatnya sangat terbatas. Banyak data-data lainnya yang diperoleh bukan dari hasil penelitian tetapi terbukti efektif untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang kompleks, diantaranya adat kebiasaan yang hidup di masyarakat (folklore of curriculum), hasil pertimbangan dan penilaian akal pikiran (common sense). Bahkan data yang diperoleh dari penelitian sendiri digunakan setelah melalui proses pertimbangan dan penilaian akal sehat terlebih dahulu.
Prinsip Umum Pengembangan Kurikulum
Sebenarnya tidak terhitung banyaknya prinsip yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum, tetapi untuk kepentingan memahami pengembangan kurikulum pada tahap awal, prinsip-prinsip tersebut dikelompokkan menjadi dua, yaitu prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip-prinsip umum pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut :
Prinsip Khusus Pengembangan Kurikulum
Di samping prinsip-prinsip umum di atas, ada juga prinsip-prinsip khusus yang bersumber dari anatomi kurikulum, yaitu :
Silakan Klik icon
untuk mendengarkan penjelasan pada topik di atas.
Untuk pembelajaran mandiri, Silahkan Anda pelajari materi-materi di bawah ini dengan seksama agar Anda lebih memahami tentang Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum. Materi yang dapat Anda pelajari terdiri dari video pembelaran, podcast, modul, tes dan tugas, juga diskusi. Jangan lupa mengisi kehadiran.
Selamat Belajar Mandiri..
Silahkan Anda mempelajari Bahan Ajar Mandiri - Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Kurikulum
Silahkan Adan menyimak pemaparan materi Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum pada podcast berikut.
Silahkan Anda membuat masing-masing satu contoh kasus masalah yang terkait dengan prinsip pengembangan kurikulum (prinsip relevansi, kontinuitas, fleksibilitas efisiensi dan efektivitas) dan juga kemukakan begaimana upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut didukung dari materi yang telah dipelajari dan juga sumber lain. Jangan luopa cantumkan identitas pada file tugas.
(tugas di upload dalam bentuk doc, tidak lebih dari 5 mb).
Batas pengumpulan tugas sampai dengan Selasa, 20 Oktober 2020, pukul 23:59.
Proses pengembangan kurikulum pada berbagai institusi pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang sangat kompleks dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait di dalamnya. Kenapa demikian? Hal ini terjadi karena kurikulum itu sendiri pada hakekatnya merupakan rancangan atau program pendidikan yang memiliki kedudukan sangat strategis dalam pencapaian tujuan pendidikan. Lebih jauh dari itu, keberadaan kurikulum menjadi penentu utama terhadap keberhasilan proses dan hasil pendidikan itu sendiri. Dengan kedudukan yang sangat penting itu, maka dalam proses pendesainan dan pengembangan kurikulum, selain dibutuhkan pemahaman mengenai teori kurikulum dan aspek-aspek yang melandasinya, juga harus menguasai berbagai model dan pendekatan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kondisi, kebutuhan, potensi, demografis, geografis, dan sosial budaya dimana kurikulum itu diberlakukan.
Sebelum lebih lanjut kita membahas tentang pendekatan dan model pengembangan kurikulum, silakan cermati perbedaan diantaranya.
Pendekatan pengembangan kurikulum merujuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum mengenai proses pengembangan kurikulum itu sendiri. Dalam hal ini, Sanjaya (2008:77) menekankan bahwa suatu pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya sesuatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Proses pengembangan kurikulum itu sendiri, dalam hal ini baik berkenaan dengan pengembangan kurikulum yang sifatnya sama sekali baru (curriculum construction), maupun berupa penyempurnaan atau perbaikan dari kurikulum yang telah atau sedang dilaksanakan saat ini (curriculum improvement).
Ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum dari sudut pandang pengambilan kebijakan, yaitu pendekatan administratif (administrative approach) dan pendekatan akar rumput (grassroots approach). Pendekatan yang pertama menggunakan sistem komando dari atas ke bawah (top-down). Pendekatan ini disebut pendekatan top-down karena pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif dan gagasan para pemegang kebijakan pendidikan atau administrator pendidikan di tingkat pusat dengan menggunakan prosedur administratif.
Pendekatan kedua merupakan pendekatan pengembangan kurikulum yang diawali dengan inisiatif dari bawah (guru dan sekolah) selanjutnya disebarluaskan pada tingkat yang lebih luas. Pendekatan ini sering juga dinamakan pendekatan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas (bottom up). Pendekatan ini ini biasanya diawali dari adanya keresahan guru atau kelompok guru tentang pelaksanaan kurikulum yang diberlakukan pada kurun waktu tertentu.
Pendekatan yang berorientasi pada tujuan mengandung maksud bahwa penyusunan kurikulum didasarkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas, mulai dari Tujuan Pendidikan Nasional, tujuan satuan pendidikan (tujuan institusional), tujuan mata pelajaran (tujuan kurikuler), sampai dengan tujuan pembelajaran (tujuan instruksional). Dalam konteks implementasi Kurikulum 2013 pada jenjang pendidikan dasar saat ini, tujuan institusional (SD dan SMP) dikembangkan dalam bentuk standar kompetensi lulusan (SKL), tujuan kurikuler atau tujuan mata pelajaran dikembangkan kedalam kompetensi inti (KI), dan tujuan pembelajaran dikembangkan menjadi kompetensi dasar (KD) sampai dengan indikator-indikator pencapaian kompetensi.
Pendekatan yang berorientasi pada bahan ajar mengandung maksud bahwa penyusunan kurikulum didasarkan atau sangat menitik beratkan pada bahan ajar atau materi pelajaran yang akan diajarkan. Dalam hal ini, tujuan dapat ditentukan berdasarkan bahan ajar atau materi pelajaran tersebut. Pertimbangan yang digunakan dalam menentukan materi yang harus diajarkan kepada peserta didik ialah berkaitan dengan pentingnya bahan serta manfaat dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat.
Pendekatan pengembangan kurikukum yang berorientasi pada kegiatan belajar-mengajar menitik beratkan pada bagaimana siswa belajar, serta cara dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan agar siswa menguasai keterampilan untuk mendapatkan pengetahuan. Keuntungan dari penerapan pendekatan yang berorientasi pada kegiatan belajar-mengajar ini yaitu sangat mementingkan kebutuhan peserta didik. Namun demikian, pendekatan ini memiliki kelemahan yaitu sulit mengukur ketercapaian hasil belajar yang diharapkan.
Setelah mencermati uraian di atas, maka dapat kita pahami bahwa dalam penyusunan suatu kurikulum sangatlah penting ditentukan terlebih dahulu jenis pendekatan mana yang akan dipergunakan. Akan tetapi, tidaklah berarti bahwa dalam penyusunan kurikulum tersebut hanya digunakan suatu pendekatan saja. Kita dapat menerapkan beberapa pendekatan secara sekaligus.
Dilihat dari perkembangannya, kebijakan pengembangan kurikulum pendidikan dasar di Indonesia, mulai kurikulum tahun 1968, 1975, sampai 1984 menggunakan pendekatan yang lebih bersifat sentralistik, artinya kebijakan pengembangan kurikulum tersebut dilakukan secara terpusat dalam bentuk Kurikulum Nasional. Pada pelaksanaan kurikulum tahun 1994, kebijakan pengembangan kurikulum terbagi menjadi dua bagian yaitu adanya kurikulum nasional dan kurikulum muatan lokal. Terbitnya Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memunculkan kebijakan baru dalam pengembangan kurikulum dimana kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar ditetapkan oleh Pemerintah, sedangkan pengembangan lebih lanjut sesuai dengan relevansinya diakukan oleh setiap satuan pendidikan dan komite sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.
Silakan pelajari secara tuntas file berikut ini.
Untuk memperdalam pemahaman Anda pada topik pertemuan 6 ini, sebaiknya Anda dapat mengerjakan tugas berikut.
Untuk mengerjakan tugas, Anda dapat mencari informasi tentang prosedur pengembangan kurikulum 2013 SD atau di SMP kepada Kepala Sekolah atau guru-guru yang pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013. Atau, Anda bisa mengunduh bahan-bahan tentang Kurikulum 2013 yang sudah banyak diunggah di berbagai laman di internet. Dari hasil kajian mengenai kurikulum 2013 tersebut, kemudian coba Anda bandingkan dengan uraian materi yang telah dibahas dalam kegiatan belajar 2 di atas. Dengan cara itu, Anda akan dapat menentukan pendekatan pengembangan kurikulum mana yang digunakan dalam implementasi kurikulum 2013, baik di SD maupun di SMP.
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan mengacu pada pemahaman mengenai pendekatan pengembangan kurikulum yang telah Anda pelajari pada pertemuan ini.
Pada pertemuan ini Anda akan mengkaji beberapa hal yang berkaitan dengan model pengembangan kurikulum menurut beberapa ahli kurikulum. Setelah mengikuti pertemuan ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan
model-model konsep Pengembangan Kurikulum, Menjelaskan
model-model pengembangan kurikulum menurut beberapa ahli, Menganalisis
Prosedur Umum Pengembangan Kurikulum.
Pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan suatu proses merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum yang pada akhirnya menghasilkan suatu disain atau rancangan kurikulum. Salah satu cara untuk mengembangkan disain kurikulum tersebut yaitu melalui model kurikulum. Model adalah pola dasar atau kerangka konseptual yang berfungsi sebagai pedoman untuk melakukan tindakan. Model pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis yang diperlukan untuk membuat keputusan dalam pengembangan suatu kurikulum. Model pengembangan kurikulum suatu satuan pendidikan memiliki ciri dan karakteristik yang disesuaikan kondisi, situasi, dan kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan serta budaya setempat.
Secara konsep, model pengembangan kurikulum terdiri dari 4 (empat) konsep, yang meliputi sebagai berikut :
1. M o d e l T y l e r ( 1 9 4 9 )
a. What educational purposes should the school seek to attain?
b. What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes?
c. How can these educational experiences be effectively organized?
d. How can we determine whether these purposes are being attained?
Model kurikulum yang diformulasikan oleh George A. Beauchamp terdiri atas lima langkah penting pengambilan keputusan dalam pengembangan kurikulum yang digambarkan dalam kerangka kerja konseptual sebagai berikut.
Penjelasan kelima langkah tersebut yaitu:
3. M o d e l S a y l o r , A l e x a n d e r , d a n L e w i s ( 1 9 8 1 )
Saylor dan rekan-rekannya, mengadopsi pendekatan administratif untuk mengembangkan suatu kurikulum Gambar 3 berikut menggambarkan model konseptual dari proses pengembangan kurikulum yang dikemukakan Saylor dkk.
Dari Gambar di atas dapat kita lihat bahwa penetapan tujuan umum dan tujuan khusus dipengaruhi oleh dua hal yaitu kekuatan eksternal dan landasan kurikulum. Kekuatan eksternal mencakup persyaratan legal, data hasil penelitian, pertimbangan asosiasi profesi, dan peraturan atau kebijakan pemerintah, sedangkan landasan kurikulum mencakup aspek masyarakat, peserta didik, dan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, pengembang kurikulum menetapkan desain kurikulum, strategi implementasi kurikulum, dan prosedur evaluasi sebagai umpan balik untuk memaksimalkan pencapaian tujuan umum yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Secara lebih spesifik, kegiatan-kegiatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
4. M o d e l T a b a ( 1 9 6 2 )
Secara singkat, langkah-langkah pengembangan kurikulum model Taba ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
4. M o d e l Oliva
Model kurikulum yang dikembangkan oleh Oliva ini dapat digunakan, pertama untuk penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang kajian tertentu, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya. Kedua, bisa digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum, dan ketiga, bisa digunakan dalam mengembangkan program pembelajaran secara lebih khusus.

6. M o d e l M c . N e i l ( 1 9 9 0 )
John D. Mc Neil (1990) mengemukakan tinjauan lain mengenai kurikulum yang secara konseptual dapat dibedakan menjadi empat macam model
kurikulum, yaitu model subjek akademik, humanistik, rekonstruksi sosial, dan teknologis. Model kurikulum subjek akademik atau kurikulum yang berbasis ilmu pengetahuan menekankan pada isi kurikulum berupa ilmu dan pengetahuan yang bersumber dari berbagai disiplin keilmuan. Dengan
demikian, nama-nama mata pelajaran dalam kurikulum ini merupakan namanama yang sesuai dengan disiplin keilmuan, misalnya Matematika, Biologi,
Kimia, Fisika, dsb.
Selamat Datang pada Pertemuan ke-9 mengenai Perkembangan Kurikulum di Indonesia. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004,2006 dan 2013. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. Setelah mempelajari materi ini Anda diharakan dapat:
Setelah Anda mencermati video diatas, Silahkan Anda pelajari materi sejarah perkembangan kurikulum setiap periode. Silahkan anda pelajari setiap karakteristik periode sejarah perkembangan kurikulum dibawah ini:
1. Kurikulum 1947
Kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial
Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran
1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism, bertujuan untuk membentukan karakter
manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.
2. Kurikulum 1952
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol
dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Kurikulum 1964
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana
Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai
keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yang meliputi pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan
dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
4. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari
perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
5. Kurikulum 1975
6. Kurikulum 1984
7. Kurikulum 2004
8. Kurikulum 2006
9. Kurikulum 2013
Silahkan Anda untuk mengisi daftar hadir dibawah ini:
Setelah Anda mempelajari materi mengenai Sejarah Perkembangan
Kurikulum di Indonesia. Untuk penguatan pemahaman Anda, anda harus
membuat infografis mengenai perbedaan karakteristik dari setiap Periode Perkembangan Kurikulum. Ketentuan tugas sebagai berikut:
Terimakasih Anda sudah mengikuti pembelajaran dengan materi Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia.
TOPIK : PEMBAHARUAN KURIKULUM
MATA KULIAH : PENGEMBANGAN KURIKULUM
PROGRAM PERMATA SAKTI TAHUN 2020PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai Pembaharuan Kurikulum. Jelaskan pembaharuan kurikulum di Indonesia. Penjelasan Anda dititikberatkan pada munculnya pembaharuan kurikulum dan bentuk pembaharuan kurikulum tersebut. Anda buat penjelasan dalam bentuk tabel. Berikut ini matriks/tabel pembaharuan kurikulum, silahkan Anda analisis pembaharuan kurikulum setiap periode!
|
Periode Kurikulum di Indonesia |
Dasar Pembaharuan |
Pembaharuan |
|
Kurikulum 1947 |
|
|
|
Kurikulum 1952 |
|
|
|
Kurikulum 1964 |
|
|
|
Kurikulum 1968 |
|
|
|
Kurikulum 1975 |
|
|
|
Kurikulum 1984 |
|
|
|
Kurikulum 2004 |
|
|
|
Kurikulum 2006 |
|
|
|
Kurikulum 2013 |
|
|
Silahkan Anda kerjakan sesuai dengan pemahaman Anda. Selamat mengerjakan tugas.
Terimakasih Anda sudah mengikuti pembelajaran pada topik Pembaharuan Kurikulum. Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya dengan materi Analis Kebutuhan Pengembangan Kurikululum
“the process by which one defines education needs and decides what their priorities are”
It means a plan for gathering information about dicrepancies and for using that information to make decisions about priorities
Perlunya Analisis Kebutuhan dalam Pengembangan Kurikulum
Silahkan Anda ikuti aktivitas pembelajaran dibawah ini sebagai penguatan materi
Setelah Anda mempelajari
topik mengenai Analisis Kebutuhan Pengembangan Kurikulum. Untuk
memperkuat pemahaman materi tersebut, selanjutnya Anda ikuti petunjuk
penugasan berikut ini:
Journal Report
Terimakasih Anda sudah mengikuti pembelajaran pada topik Analisis Kebutuhan Pengembangan Kurikulum. Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya dengan materi Perencanaan Pengembangan Kurikulum
Konsep Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum istilah yang terdiri dari dua kata yaitu“perencanaan” dan “kurikulum”. Perencanaan (plan) merupakan bagian dariunsure manajemen yang berarti proses, cara, perbuatan merencanakan atau merancangkan (http://kbbi.web.id/).
Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan -kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa kearah perubahan tingkah laku yang di inginkan dan menilaisampai mana perubahan-perubahan telah terjadi pada diri siswa.(Rusman, 2012). Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2007) perencanaan kurikulum adalah suatu proses sosial yang kompleks yang menuntut berbagai jenis dan tingkat pembuatan keputusan.
Landasan Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum yang dirumuskan oleh lembaga pendidikan baik formal maupun non formal harus mengasimilasi dan mengorganisasi informasi dan data secara intensif yang berhubungan dengan pengembangan program lembaga pendidikan. Berikut ini informasi dan data yang menjadi area utama adalah :
a. Kekuatan sosial
Sistem pendidikan di Indonesia sangatlah dinamis, sehinggaselalu menyesuaikan dengan perubahan dan dinamika sosial yang terjadi di masyarakat, baik yang berhubungan dengan system politik, ekonomi, social dan kebudayaan.
b. Perlakuan pengetahuan
Pertimbangan yang diambil oleh perencana kurikulum dalam merancang kurikulum yang disesuakan dengan perkembangan ilmu pengetahuan adalah di mana individu belajar aktif untuk mengumpulkan dan mengolah informasi, mencari fakta dan data, berusaha belajar tentang sikap, emosi, perasahaan terhadap pembelajaran, proses informasi, memanipulasi, menyimpan dan mengambil informasi tersebut untuk dikembangkan dan digunakan.
c. Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik menjadi salah satu informasi dan data yang mendasar dalam merancang kurikulum. Karena dengan informasi tersebut, perancang kurikulum merencanakan kurikulum yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Prosedur Perencanaan Kurikulum
Model Perencanaan/Desain Kurikulum
Desain kurikulum dapat dirumuskan menjadi tiga jenis, sebagaimana yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2008: 45-47) sebagai hasil kajian beberapa sumber dalam bukunya yang berjudul Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu desain kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu, desain kurikulum yang berorientasi pada masyarakat, dan desain kurikulum yang berorientasi pada siswa.

Silahkan Anda mengisi daftar kehadiran dibawah ini sebagai bukti Anda mengikuti perkuliahan

Urgensi Kurikulum
Urgensi SosialisasiKurikulum
Jenis Sosialisasi Kurikulum
Proses Sosialisasi Kurikulum
Target Sosialisasi Kurikulum

IMPLEMENTASI KURIKULUM
Pengertian secara bahasa sebagaimana dalam Oxford Advance Leraner’s Dictionary yang dikutip dalam Mulyasa Implementasi adalah penerapan suatu yang memberikan efek atau dampak. Lebih lanjut disebutkan implementasi adalah proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingg memberiksn dampak baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, ataupun nilai dan sikap.
Kemudian implementasi kurikulum dapat juga diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis (written curriculum) kedalam bentuk pembelajaraan. Implementasi dapat juga diartika sebagai pelaksanaan dan penerapan.
Adapun implementasi kurikulum dalam bentuk pembelajaran berdasar Standar Nasional Pendidikan terutama Standar Proses, sebagaimana dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 81A tahun 2013.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kurikulum Implementasi Kurikulum dipengaruhi oleh tiga faktor berikut.
b. Pemantauan Tidak Langsung
Cara ini menghendaki petugas monitoring tidak perlu terjun langsung ke lokasi; tetapi penggalian data dilakukan dengan cara mengirim seperangkat daftar isian untuk diisi oleh orang lain di lokasi penelitian. Cara tidak langsung ini juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data melalui laporan-laporan yang dibuat pimpinan pemantau.
Sebelum suatu kurikulum diimplementasikan secara luas (nasional), maka diperlukan suatu tahapan pengembangan, dimana kurikulum tersebut direncanakan dan dirancang oleh pengembang kurikulum dengan cermat, diuji coba dalam lingkungan tebatas (pilot rpoject), dikaji kembali hasil uji tersebut, sebelum akhirnya menetapkan suatu keputusan apakah kurikulum tersebut diserbarluaskan atau tidak
Dalam pengembangan kurikulum, komponen evaluasi merupakan komponen penting dan tahapan yang harus (wajib) ditempuh. Evaluasi ditempuh untuk mengetahui sejauh mana keefektifan kurikulum tersebut, hasil evaluasi tersebut dijadikan sebagai balikan (feed back) sebagai bahan atau informasi dalam rangka menyempurkan kurikulum.
1. Konsep Evaluasi dan Evaluasi Pengembangan KurikulumBazargan (2006) juga menyatakan bahwa evaluasi kurikulum melibatkan refleksi kegiatan unit atau fenomena pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dia berpendapat bahwa evaluasi kurikulum dapat menanggapi empat pertanyaan.
1) Seberapa baik kualitas tujuan pembelajaran?
2) Seberapa baik kualitas silabus?
3) Seberapa baik penentuan prosedur dengan jadwal pembelajaran?
4) Seberapa baik kualitas dari fungsi penjadwalan?
2. Pentingnya evaluasi kurikulum
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, evaluasi merupakan komponen penting dalam kurikulum yang harus ditempuh oleh guru. Evaluasi ditempuh untuk mengetahui sejauh mana keefektifan kurikulum tersebut, hasil evaluasi tersebut dijadikan sebagai balikan (feed back) bahan atau informasi dalam perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Berdasarkan uraian singkat tersebut, Hamalik (1990) mengemukakan bahwa pentingnya evaluasi pengembang kurikulum masuk dalam berbagai tingkatan, yaitu : untuk guru bidang studi, untuk kepala sekolah, pemerintah daerah, pemerintah pusat.
3. Prinsip dan Tujuan Evaluasi Pengembangan Kurikulum
Evaluasi pada hakekatnya dapat dimaknai sebagi proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan kriteria atau standar yang sudah ditetapkan. Selanjutnya menurut Hamalik (1990) evaluasi sebagai salah satu alat pendidikan, dalam pelaksanaannya harus memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi pengmbangan kurikulum, sebagai berikut :
a. Berorientasi Tujuan
Setiap program evaluasi pengembangan kurikulum harus memiliki tujuan yang jelas dan spesifik. Tujuan tersebut dijadikan sebagai arah selama proses evaluasi pengambangan kurikulum dilaksanakan.
b. Objektif
Evaluasi pengembangan kurikulum harus berpijak pada apa yang ditemukan (apa adanya), data yang didapatkan konkrit, relevan dan tidak dimanipulasi, data didapatkan melauli instrumen yang handal.
c. Komprehensif
Pelaksanaan evaluasi pengembangan kurikulum harus mencakup semua aspek pada komponen kurikulum. Semua komponen kurikulum harus mendapatkan treatment dan perhatian yang berimbang.
d. Kooperatif
Keterlaksanaan program pengembangan evaluasi kurikulum menjadi tanggung jawab bersama-sama (guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat sekitar) oleh karena itu amat sangat dibutuhkan kolaborasi di antaranya, meskpiun pada hakekatnya tanggung jawab utama berada pada evaluator atau pengembang kurikulum.
e. Efisien
Semua sumber daya yang digunakan (waktu, tenaga, biaya, perlatan dan penunjang lainya) harus digunakan sebaiknya-baiknya (tepat guna dan bernilai guna).
f. Berkesinambungan
Program kurikulum bersifat dinamis, terus mengalami pembaharuan terus menerus. Tuntutan sosial/masyarakat mejadi salah satu faktor pembaharuan kurikulum. Dengan fakta tersebut, evaluasi pengembangan kruikulumpun dilaksanakan secara terus menenur, tujuannya adalah agar kurikulum senantiasa sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
4. Model Evaluasi Pengembangan Kurikulum
Dalam perkembangannya kajian evaluasi, terdapat beberapa model evaluasi program (kurikulum yang dikembangkan oleh para ahli yang dapat digunakan sebagai “pisau bedah” dalam mengevaluasi sebuah program (kurikulum). Model evaluasi merupakan desain evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli evaluasi, yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya atau tahap evaluasinya.
Agar pemahaman Anda semakin dalam tentang topik ini, silakan amati tayangan video berikut ini :
Agar pemahaman Anda semakin dalam tentang topik ini, silakan amati tayangan video berikut ini :
Silahkan Anda mendengarkan Audio Podcast berikut ini:
UTS susulan dilaksanakan
Senin, 11 Januari 2021 (18.30-19.15 WIB)
Mahasiswa yang mengikuti UTS susulan :
UAS susulan dilaksanakan
Senin, 11 Januari 2021 (19.30-20.30 WIB)
Mahasiswa yang mengikuti UAS susulan :
NIHIL