| Site: | LMS-SPADA INDONESIA |
| Course: | Administrasi Dan Supervisi Pendidikan |
| Book: | Materi 15 |
| Printed by: | Guest user |
| Date: | Thursday, 9 July 2026, 5:17 PM |
Kepemimpinan secara umum didefinisiksn sebagai kemampuan dalam kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, mengarahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya terbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan.
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang diorganisir menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan (Ralp M.Stogdill). Kepemimpinan dalam organisasi berarti penggunaan kekuasaan dan pembuatan keputusan-keputusan. (Robert Dubin). Kepemimpinan adalah individu di dalam kelompokyang memberikan tugas pengarahan dan pengorganisasaian yang relevan dengan kegiatan-kegiatan kelompok (Fred E.Fiedler). Leadership is any contribution to the establishment and attainment of group purpose (Kimball Wiles). Dua definisi dari Carter V. Good : The ability and readiness to inspire, guide, direct, or manage other dan The role of interpreter of interest and objectives of group, to grow up recognizing and accepting the interpreter as spokesman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Fungsi utama pemimpin pendidikan adalah kelompok untuk belajar memutuskan dan bekerja, antara lain :
1. Pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerjasama dengan penuh rasa kebebasan
2. Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan dan memjelaskan tujuan
3. Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja, yaitu membantu kelompok dalam menganalisis situasi untuk kemudian menetapkan prosedur mana yang paling efektif dan efisien
4. Pemimpin bertanggungjawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok
5. Pemimpin bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi organisasi
Dalam kepemimpunan yang otoriter, pemmpin bertindak sebagai dictator terhadap anggota kelompok
Pemimpin tidak memberikan kepemimpinannya, melainkan membiarkan bawahannya berbuat sekehendaknya. Keberhasilan lembaga ditenukan atas kesadaran dan dedikasi anggota kelompok. Struktur organisasinya kabur, segala kegiatan dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dari pimpinan
Kepemimpinannya bukan sebagai dictator, tapi di tengah-tengah anggota kelompoknya. Pemimpin berusaha menstimulus anggotanya agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan anggotanya.
Pemimpin hanya tampaknya saja demokratis, namun sebenarnya dia bersikap otokratis.
Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh pemimpin pendidikan antara lain:
Pemimpin harus menguasai cara-cara kepemimpinan, memiliki keterampilan memimpin supaya dapat bertindak sebagai seorang pemimpin yang baik. Untuk itu harus memiliki kemampuan bagaimana caranya : menyusun rencana bersama, mengajak annotanya berpartisipasi, member bantuan kepada anggota kelompok, memupuk moral kelompok, bersama-sama membuat keputusan. Pemimpin tidak hanya tahu, tetapi harus dapat melaksanakan.
Hubungan insane merupakan hubungan antar manusia. Ada dua jenis hubungan yaitu :
Maksud utama adalah meningkatkan partisipasi anggota kelompompok sehingga dapat mengefektifkan potensi. Pemimpin sebagai penengah , pendamai, dan bukan menjadi hakim.
Kegiatan ini mencangkup segala usaha yang menggunakan keahlian yang dimiliki petugas secara efektif. Kegiatannya meliputi seleksi, pengangkatan, penempatan, penugasan, orientasi, pengawasan, bimbingan, dan pengembangan, serta kesejahteraan.
Merupaka usaha untuk mengetahui sejauh mana tujuan sudah tercapai. Teknik dan prosedur evaluasi : menentukan tujuan penilaian, menetapkan norma / ukuran yang akan dinilai, mengumpulkan data-data, pengolahan data, menyimpulkan hasil penilaian.
Seseorang akan menjadi pemimpin karena ia memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Hanya orang yang memiliki kemampuan dan bakatlah yang bisa menjadi pemimpin. Sehingga muncul istilah “leaders are borned not built”. Teori ini disebut juga teori genetis.
Seseorang akan menjadi pemimpin kalau lingkungan, waktu atau keadaan memungkinkan ia menjadi pemimpin. Seseorang dapat menjadi pemimpin bila diberi kesmpatan dan pembinaan meskipun tidak memiliki bakat atau pembawaan. Maka muncul istilah “leaders are build not borned”. Teori ini disebut teori social.
Merupakan gabungan antara teori pertama dan teori kedua, untuk menjadi pemimpin perlu bakat dan disertai pembinaan bakat tersebut.
Setiap orang bisa menjadi pemimpin asalkan kemampuannya diperlukan pada kondisi tersebut. Teori ini disebut teori situasi.
Kemampuan berhubungan dengan bawahan
Kemampuan menerapkan ilmunya ke dalam pelaksanaan (operasional)
Kemampuan dalam melihat sesuatu sacara keseluruhan yang kemudian dapat merumuskannya. Seperti dalam mengamibil keputusan, membentuk kebijakan, dll. Kemampuan ini juga disebut Managerial Skill
Pendekatan yang didasari asumsi bahwa kondisi fisik dan karakteristik pribadi adalah penting bagi kesuksesan pemimpin.
Pendekatan yang memandang kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan sifat-sifatnya. Studi ini melihat dan mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatannya dalam mempengaruhi anggota-anggota kelompoknya.Pendekatan ini menitikberatkan pandangannya pada dua aspek perilaku kepemimpinan :
Gaya-gaya kepemimpinan dapat dikategorikan sebagai gaya yang berorientasi pada tugas (task oriented) dan gaya yang berorientasi dengan bawahannya (employee oriented).
Teori-teori yang termasuk dalam pendekatan keperilakuan antara lain :
Studi ini dilakukan di Ohio State Universty oleh Hemphil dan Coons, dan kemudian dilanjutkan oleh Halpin dan Winer. Studi ini melihat kepemimpinan itu atas dua dimensi perilaku pemimpin :
1) Initiating Structure (struktur tugas)
Merupakan cara pemimpin melukiskan hubungannya dengan bawahan dalam usaha menetapkan pola organisasi, saluran komunikasi, dan metode atau prosedur yang dipakai dalam organisasi
2) Consideration (tenggang rasa)
Merupakan perilaku saling menghargai dan persahabatan antara pemimpin dengan bawahanyya.
Teori ini dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jene S. Mouton yang membedakan dua dimensi dalam kepemimpinan :
1) Concern for People
Menekankan pada hubungan antar individu
2) Menekankan pada produksi
Terdapat lima gaya kepemimpinan yang merupaka kombinasi dari kedua gaya kepemimpinan di atas antara lain:
1) Gaya Kepemimpinan Improverished
Pemimpin menggunakan usaha yang paling sedikit untuk menyelesaikan tugas tertentu
2) Gaya Kepemimpinan Country Club
Kepemimpinan yang didasarkan pada hubungan informal antara individu, keramahan dan kegembiraan
3) Gaya Kepemimpinan Team
Keberhasilan suatu organisasi tergantung kepada hasil kerja sejumlah individu yang penuh pengabdian. Dasar kepemimpinan ini adalah saling percaya dan penghargaan antar sesama anggota kelompok
4) Gaya Kepemimpinan Task
Pemimpin memandang efisien kerja sebagai factor utama untuk keberhasilan organisasi. Penekanan pada penampilan individu dalam organisasi.
1) Gaya Kepemimpinan Midle Road
Artinya tengah-tengah. Penekanan pada keseimbangan yang optimal antara tugas dan hubungan manusia
1) Perilaku Kepemimpinan yang bergaya normative
Dengan dimensi nomotetis yang meliputi usahanya untuk memenuhi tuntutan organisasi. Mengacu pada Lembaganya yang ditandai dengan peranan dan harapan tertentu sesuai tujuan organisasinya.
2) Perilaku Kepemimpinan yang bergaya personal
Disebut dengan dimensi idiografis, yaitu pemimpin yang mengutamakan kebutuhan dan ekspektasi anggota organisasinya. Mengacu pada individu dalam organisasi dengan kepribadian dan disposisi tertentu.
Model ini banyak melahirkan beberapa model kepemimpinan, diantaranya :
1) Model Kepemimpinan Kontingensi
a) Dikembangkan oleh Fred.E. Fiedlr
b) Seorang pemimpin akan sukses bila menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda
2) Model Kepemimpinan Tiga Dimensi
a) Dikemukakan oleh Williaw J. Reddin
b) Model ini dinamakan “Three Dimentional Model” karena dalam pendekatannya menggunakan tiga kelompok gaya (Gaya dasar, Gaya Efektif, Gaya tidak efektif)
3) Teori Kepemimpinan Situasional
a) Dikembangkan oleh Paul Hersey dan Keneth H.Blanchard. M
b) Pemimpin yang efektif tergantung pada taraf kematangan pengikut dan kemampuan pemimpin untuk menyesuaikan orientasinya, baik orientasi tugas ataupun hubungan antar manusia.
c) Ada empat gaya kepemimpinan
(1) Telling, perilaku pemimpin dengan tugas tinggi dan hubungan rendah
(2) Selling, perilaku pemimpin dengan tugas tinggi dan hubungan tinggi
(3) Participating, perilaku pemimpin dengan tugas rendah dan hubungan tinggi
(1) Delegating, perilaku pemimpin dengan rendah tinggi dan hubungan rendah
Yang disebut pemimpin pendidikan adalah orang yang memilki kelebihan untuk mempengaruhi, mengajak, mendorong, membimbing, menggerakkan dan mengkoordinasikan staf pendidikan lainnya ke arah peningkatan mutu pendidikan. Pemimpin resmi dimiliki oleh orang yang menduduki posisi dalam struktur pendidikan. Pemimpin tidak resmi, bisa dimiliki oleh setiap orang yang memberikan arahan kepada perbaikan pendidikan.
Konsep visi menurut Lee Roy Beach (1993:50), mendefinisikan visi sebagai berikut :
Vision defines the ideal fiture, perhaps implying retention of the current cultura and the activities, or perhaps implying change.
Visi menggambarkan masa depan yang ideal, barangkali menyiratkan ingatan budaya yang sekarang dan aktivitas, atau barangkali menyiratkan perubahan. Terbentuknya visi dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman professional, interaksi da komunikasi, penemuan keilmuan serta kegiatan intelektual yang membentuk pola piker tertentu (Gaffar, 1994 : 56).
Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan “school based management”. Kepemimpinan ini yang difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan, menjadi agen perubahan (agen of change) yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi yang tahu prioritas, menjadi pelatih yang provisional dan menjadi pembimbing anggota lainnya.
Visioner Leadership didasarka pada tuntutan perubahan zaman yang menuntut dikembangkannya secara intensif peran pendidikan dalam menciptaka sumber daya menusia yang handal.
Untuk menjadi pemimpin yang Visioner, maka seseorang harus :
Karakter visi antara lain:
Tujuan visi antara lain :
Langkah-langkah menjadi Visionary Leadership
1) Pembentukan dan perumusan visi oleh anggota tim kepemimpinan
2) Merumuskan strategi secara konsensus
3) Membulatkan sikap dan tekad sebagai total commitment untuk mewujudkan visi ini menjadi suatu kenyataan.
Pendidikan harus mampu mengantisipasi berbagai tuntutan.
· Sekolah diharapkan dapat menyelenggarakan program yang lebih humanis
· Dunia pendidikan harus mampu menjamin peserta didiknya di berbagai bidang profesi sebagai syarat untuk memperoleh hak bekerja sesuai dengan kompetensinya.
· Pendidikan harus mampu menyiapkan hasil didik yang kompeten dalam berbagai aspek.
· Kurikulum pendidikan harus mampu menjaga keserasian antara program dengan aspirasi masyarakat dan negara
· Pendidikan diharapkan mampu menampung politisasi pendidikan, kebutuhan belajar sepanjang hayat dan internasionalisasi pendidikan.
Menjadi Seorang pemimpin yang Visioner dalam Menghasilkan Produktivitas Pendidikan
Kepemimpinan transformasional dibangun dari dua kata :
Setiap tindakan yang dilakukan oleh eseorang untuk mengkoordinasikan, mengarahkan, dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan.
1) Mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda.
1) Kepemimpinan Transformasional diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya.
2) Formulasi dari teori Kepemimpinan Transformasional antara lain :
a) Karisma
b) Stimulasi intelektual
c) Perhatian yang individualisasi
Dapat dikatakan bahwa seorang kepala sekolah menerapkan teori Kepemimpinan Transformasional jika dia mampu mengubah energy sumber-sumber daya baik manusia maupun non manusia untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah seperti yang dikemukakan oleh Sudarwan Danim (2003 : 54).
Menurut Leithwood dkk (1999) mengatakan “transformational leadership is seen to be sensitive to organiation building developing shared vision, distributing leadership and building school culture necessary to current restructing efforts in school”.
Pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memilki visi ke depan dan mampu mengidentifikasikan perubahan lingkungan serta mampu mentransformasikan perubahan tersebut ke dalam organisasi. Dimensi-dimensi Kepemimpinan Transformasional Menurut BASS dan AVOLIO (1994) dengan konsep 4I.
1) Idealized Influenced, perilaku yang menghasilkan rasa hormat (respect) dan rasa percaya dari orang- orang yang dipimpinnya.
2) Inspirational Motivation, senantiasa menyediakan tantangan dan makna atas pekerjaan orang-orang yang dipimpinnya.
3) Intellectual Simulation, senantiasa menggali ide-ide baru dan solusi yang kreatif dari orang-orang yang dipimpinnya
4) Individualized consideration, memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan prestasi dan kebutuhan orang yang dipimpinnya.
Model kepemimpinan transformasial perlu diterapkan dalam dunia pendidikan, karena merupakan salah satu solusi krisis kepemimpinan terutama dalam bidang pendidikan. Olga Epitropika (2001:1) mengemukakan 6 hal mengapa kepemimpinan transformasial penting bagi suatu organisasi.
Implementasi odel kepemimpinan transformasional dalam organisasi / intstansi pendidikan perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut.
Kritisi model kepemimpina transformasional :
Kepemimpinan transformasional hampir sama dengan kepemimpinan transforming. Burns membatasi kepemimpinan yang mentransformasi kepada para pemimpin yang selalu mendapat pencerahan(enlightened) yang menunjuk kepada nilai-nilai moral yang positif dan kebutuhan-kebutuhan tingkat yang lebih tinggi dari para pengikutnya.bagi Bass,seorang pemimpin yang mengaktifkan motivasi pengikut dan meningkatkan komitmennya adalah transformasional, tidak memperhatikan apakan memiliki efek yang menguntungkan untuk pengikutnya atau tidak. Jadi, dengan demikian kepemimpinan transforming merujuk pada pencerahan yang memperhatikan kepemimpinan nilai – nilai moral positif dan kebutuhan – kebutuhan di tingkat lebih tinggi dari para pengikutnya, sedangkan kepemimpinan transformasional tanpa memperhatikan efeknya terhadap pengikutnya atau mengesampingkan nilai – nilai moral yang positif.
Hal ini senada dengan pendapat Golmen, et.al (2003) yang mengatakan kepemimpinan transforming adalah kepemimpinan yang memiliki kesadaran sendiri tentang emosionalnya, manajemen diri sendiri, kesadaran sosial dan manajemen hubungan kerja. Pola perilaku kepemimpinan yang seperti inidiharapkan berpengaruh positif terhadap bawahannya dalam membentuk nilai – nilai dan keyakinan untuk mencapai tujuan organisasi (Anderson 1998).
Model kepemimpinan lain yang perlu diperhatikan sebagai kritisi terhadap kepemimpinan transformasional adalah kepemimpnan amanah. Kepemimpinan amanah adalah kepemimpinan yang dilandasi dengan iman dalam rangkan mencapai tingkat ketaqwaan kepada Allah SWT. Model kepemimpinan ini selalu memikirkan keadaan umatnya dan jauh dari memikirkan kepentingan pribadi atau golongannya. Pemimpin selalu berhati-hati dalam menjaga keimanannya untuk memperoleh derajat taqwa disisi Allah SWT (Ash Shalabi, 2003).