Global searching is not enabled.
Skip to main content
Forum

Forum Diskusi 2.

Uji Hipotesis Rataan

Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI - Number of replies: 37

Jika ada pertanyaan mengenai uji hipotesis rataan silahkan tulis di kolom berikut ini. Jika belum ada pertanyaan maka jawablah pertanyaan berikut.

Secara umum, bagaimana kita menentukan akan menggunakan uji satu pihak atau uji dua pihak?

In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by FAIRUZA AQILAH -
Nama : Fairuza Aqilah
NPM : 0723012731

Izin menjawab bu. Secara umum, penentuan apakah kita akan menggunakan uji satu pihak atau uji dua pihak ditentukan oleh rumusan hipotesis penelitian dan arah dugaan peneliti.
- Uji satu pihak digunakan jika peneliti sudah mempunyai dugaan arah yang jelas berdasarkan teori, literatur, atau alasan kuat lainnya. Misalnya ingin mengetahui apakah hasilnya lebih besar atau lebih kecil dari suatu nilai.
Contoh: "Apakah metode pembelajaran baru memberikan hasil belajar yang lebih baik dari metode lama?"
- Sedangkan uji dua pihak digunakan jika peneliti tidak memiliki dugaan arah yang spesifik, hanya ingin tahu apakah ada perbedaan/efek atau tidak secara umum.
Contoh: "Apakah metode pembelajaran baru memberikan hasil belajar yang berbeda dari metode lama?"
In reply to FAIRUZA AQILAH

Re: Uji Hipotesis Rataan

by ALYA ADILA -
Izin menambahkan dan menyederhanakan,
1. Uji Satu Pihak
Digunakan jika peneliti hanya ingin menguji apakah rata-rata lebih besar atau lebih kecil dari nilai tertentu.
Contoh: ingin membuktikan bahwa rata-rata nilai matematika siswa lebih dari 70.
H₀: μ ≤ 70
H₁: μ > 70
2. Uji Dua Pihak
Digunakan jika peneliti hanya ingin mengetahui apakah rata-rata berbeda (tidak sama) dengan nilai tertentu, tanpa memperhatikan arah perbedaan (lebih besar atau lebih kecil).
Contoh: ingin menguji apakah rata-rata berat beras berbeda dengan 50 kg.
H₀: μ = 50
H₁: μ ≠ 50
In reply to ALYA ADILA

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul, selain itu juga dapat dilihat dari dasar teori yang dimiliki peneliti mengenai hal yang diteliti. jika dasar teori sudah cukup kuat maka peneliti dapat menggunakan uji satu pihak tetapi jika dasar teori belum cukup kuat sehingga peenlti belum yakin, dapat digunakan uji dua pihak.
In reply to FAIRUZA AQILAH

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to FAIRUZA AQILAH

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by NADA KAMILAH RAMADHANI -
Nada Kamilah Ramadhani (0723012601)
1. Melihat tujuan penelitian
Jika hanya ingin mengetahui “ada perbedaan” tanpa arah →maka menggunakan uji dua pihak.
Jika ingin mengetahui “ada peningkatan/penurunan tertentu” dengan arah jelas → maka menggunakan uji satu pihak.
2. Rumusan hipotesis
Uji Dua pihak:
H₀: μ = μ₀
H₁: μ ≠ μ₀
Uji Satu pihak (kanan):
H₀: μ ≤ μ₀
H₁: μ > μ₀
Uji Satu pihak (kiri):
H₀: μ ≥ μ₀
H₁: μ < μ₀
In reply to NADA KAMILAH RAMADHANI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by LUTHFY ULYA LAZIMA -
secara umum pemilihan uji satu pihak atau uji dua pihak tergantung pada rumusan hipotesis atau tujuan penelitian dan arah dugaan peneliti
- Uji dua pihak : uji ini dipakai jika peneliti hanya ingin mengetahui adanya perbedaan tanpa memperhatikan arahnya (lebih besar atau lebih kecil) atau dengan kata lain uji ini dipakai untuk melihat perbedaan secara umum.
- Uji satu pihak : uji ini dipakai jika peneliti sudah punya dugaan arah tertentu sejak awal (lebih besar saja atau lebih kecil saja)
In reply to LUTHFY ULYA LAZIMA

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by YUNI MERIANI -
Nama : Yuni meriani
NPM : 0723012511

Izin menjawab ibu, kita bisa menggunakan uji satu pihak jika arah dugaan sudah jelas sejak awal, untuk uji dua pihak dapat digunakan jika peneliti ingin mengetahui parameter populasi apakah ada perbedaan atau antara dua populasi, tanpa menentukan arahnya
In reply to YUNI MERIANI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by RAFIKA HANANI -
Uji dua pihak digunakan ketika ingin mengetahui ada atau tidaknya perbedaan atau pengaruh, tanpa memperhatikan apakah nilainya lebih besar atau lebih kecil, sehingga hasil analisis mempertimbangkan kemungkinan perbedaan ke kedua arah. Sebaliknya, uji satu pihak dipilih jika sudah memiliki dugaan arah yang jelas berdasarkan teori, temuan sebelumnya, atau pertimbangan logis tertentu, misalnya menduga bahwa suatu perlakuan akan memberikan hasil yang lebih baik atau lebih buruk dibandingkan kondisi lain.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by ERLANGGA WISNU ADJI -
Nama : Erlangga Wisnu
NPM : 072312711

Secara umum, untuk menentukan apakah kita akan menggunakan uji satu pihak atau jika dua pihak ditentukan oleh tujuan penelitian

- Uji Dua Pihak
Digunakan jika peneliti hanya ingin mengetahui apakah ada perbedaan tanpa mempedulikan arah perbedaannya atau jika peneliti belum memiliki dugaan perbedaan.
contohnya : “Apakah rata-rata nilai siswa berbeda dari 75?” (Peneliti tidak peduli nilainya akan lebih tinggi atau lebih rendah)

Uji Satu Pihak
Digunakan jika peneliti sudah mengetahui dugaan perbedaan atau ingin mengetahui apa perbedaan dari arah tertentu
Contohnya : “Apakah metode baru meningkatkan hasil belajar siswa?” (Peneliti ingin mengetahui apakah dengan metode belajar baru nilai siswa akan lebih besar dari rata-rata nilai yang sudah ada)
In reply to ERLANGGA WISNU ADJI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by ARUM VELIA HERAWATI -
NAMA : ARUM VELIA H. (0723012771)

Dalam uji hipotesis rataan, pemilihan uji satu pihak atau uji dua pihak tergantung pada rumusan hipotesis penelitian dan arah dugaan peneliti.
1. uji dua pihak : digunakan ketika peneliti hanya ingin tahu apakah ada perbedaan.
Bentuk hipotesis:
~ H₀: μ = μ₀
~ H₁: μ ≠ μ₀

2. uji satu pihak : digunakan ketika peneliti mempunyai dugaan arah (berdasarkan sebelumnya)
Bentuk hipotesis:
Kanan
~ H₀: μ ≤ μ₀
~H₁: μ > μ₀
Kiri
~H₀: μ ≥ μ₀
~H₁: μ < μ₀
In reply to ARUM VELIA HERAWATI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by RARA ANISA NABILAH -
Izin menjawab pertanyaanya bu

• Uji dua pihak
Digunakan ketika kita ingin menguji apakah ada perbedaan atau ketidaksamaan secara umum, tanpa mempedulikan arah (lebih besar atau lebih kecil).
• Uji satu pihak
Digunakan ketika kita ingin menguji adanya perbedaan pada satu arah tertentu (hanya lebih besar atau hanya lebih kecil).
In reply to RARA ANISA NABILAH

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by MOCHAMMAD RIFQI AL KHADZIQ -
Nama : Mochammad Rifqi Al Khadziq
NPM : 0723012671
menurut saya pemilihan uji satu pihak atau dua pihak tergantung pada arah dugaan peneliti.

Jika peneliti hanya ingin tahu ada atau tidaknya perbedaan tanpa memperhatikan arah perbedaan tersebut, maka digunakan uji dua pihak,
contoh: ingin tahu apakah rata-rata sama atau berbeda dari 75, bisa lebih besar atau lebih kecil.

Jika peneliti telah memiliki dugaan yang jelas mengenai arah perbedaan, maka digunakan uji satu pihak. Uji satu pihak kanan digunakan ketika peneliti sudah menduga arah pengaruhnya.
contoh: Uji pihak kanan (Tipe B): jika dugaan hasilnya lebih besar. Contoh: Ha: µ > 75.
Uji pihak kiri (Tipe C): jika dugaan hasilnya lebih kecil. Contoh: Ha: µ < 75.
In reply to MOCHAMMAD RIFQI AL KHADZIQ

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mas, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AINI ZAKIYATUL MAGHFIROH -
izin bertanya bu,
apa dampak kesalahan tipe I dan tipe II dalam penelitian pendidikan? manakah kesalahan yang paling berbahaya kesalahan tipe I atau tipe II?
In reply to AINI ZAKIYATUL MAGHFIROH

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
tergantung konteksnya:
dalam penelitian eksak, kesalahan tipe 1 misalnya menyatakan obat efektif dibanding obat sebelumnya, padahal sebenarnya sama, efeknya pasien akan membayar lebih mahal. kesalahan tipe 2 misalnya menyatakan obat tidak lebih efektif dibanding obat sebelumnya padahal lebih efektif, akibatnya peluang kesembuhan pasien lebih kecil.
dalam bidang hukum, kesalahan tipe 1 misalnya menyatakan orang bersalah padahal dia tidak bersalah akibatnya memenjarakan orang tidak bersalah. kesalahan tipe 2 misalnya menyatakan penjahat tidak bersalah akibatnya tidak dipenjara dan berkeliaran yang akhirnya meresahkan warga.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AYU ANGGITA RISQIANI -
Uji satu pihak digunakan apabila kita sudah punya dugaan sejak awal, hasilnya akan mengarah ke satu sisi tertentu.

Uji dua pihak digunakan apabila kita hanya ingin tahu apakah ada perbedaan atau tidak, tanpa ingin tahu siapa yang lebih besar atau kecil.
In reply to AYU ANGGITA RISQIANI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by EFTI PUJI LESTARI -
Nama : Efti Puji Lestari
NPM : 0723012541

Izin menjawab bu,terkait secara umum, bagaimana kita menentukan akan menggunakan uji satu pihak atau uji dua pihak?
1. Uji satu pihak digunakan ketika peneliti memiliki prediksi arah yang jelas dan hanya tertarik pada hasilnya yang lebih besar (>) atau lebih kecil (<) dari standar.
Wilayah Penolakan (Ho): Hanya di satu ekor kurva distribusi.
Tujuan: Memastikan apakah efek bergerak ke arah yang spesifik (misalnya, program baru pasti meningkatkan skor).
2. Uji dua pihak digunakan ketika peneliti hanya ingin tahu apakah ada perbedaan atau pengaruh secara umum (=), tanpa memprediksi arahnya.
Wilayah Penolakan (Ho): Terbagi di dua ekor kurva distribusi (lebih konservatif).
Tujuan: Memastikan apakah ada perbedaan signifikan (bisa positif atau negatif) dari standar.
In reply to EFTI PUJI LESTARI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by KARTIKA DEWI RENCANI -
Kartika Dewi Rencani (0723012631)

Permisi, Izin menjawab Penentuan Uji Hipotesis Rataan Penentuan apakah akan menggunakan uji satu pihak (one-tailed) atau uji dua pihak (two-tailed) dalam pengujian hipotesis rataan didasarkan pada dua hal utama: rumusan hipotesis penelitian dan arah dugaan yang dimiliki oleh peneliti.
1. Uji Satu Pihak (One-Tailed Test) Uji ini digunakan ketika peneliti sudah memiliki dugaan arah yang jelas mengenai hasil penelitian. Artinya, peneliti menduga perbedaan hanya bergerak ke satu arah spesifik: Lebih besar (>): Contoh, menduga bahwa perlakuan baru akan menghasilkan rata-rata nilai lebih tinggi dari perlakuan lama. Lebih kecil (<): Contoh, menduga bahwa program diet baru akan menghasilkan rata-rata penurunan berat badan lebih rendah (berat yang tersisa lebih kecil) dari program sebelumnya. Fokus uji ini adalah untuk membuktikan dugaan satu arah tersebut.

2. Uji Dua Pihak (Two-Tailed Test) Uji ini digunakan ketika peneliti tidak memiliki dugaan arah yang spesifik. Peneliti hanya menduga bahwa ada perbedaan atau tidak sama antara dua kelompok atau nilai, tanpa memprediksi apakah perbedaan itu akan menjadi lebih besar atau lebih kecil. Berbeda (\neq): Contoh, ingin menguji apakah ada perbedaan rata-rata kecepatan lari antara atlet dari kota A dan kota B. Tidak ada dugaan spesifik kota mana yang lebih cepat. Tujuannya adalah untuk mendeteksi perbedaan, baik positif maupun negatif.
In reply to KARTIKA DEWI RENCANI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by LUTHFY ULYA LAZIMA -
Untuk uji satu pihak (One-tailed test) itu digunakan jika peneliti sudah mempunyai dugaan arah. Intinya untuk mengetahui apakah lebih besar atau lebih kecil.
Misalnya:
Untuk uji pihak kanan
Seorang guru ingin tahu apakah rata-rata nilai matematika siswa lebih dari 75
H₀: μ ≤ 75
H₁: μ > 75

Untuk uji pihak kiri
Peneliti ingin tahu apakah waktu rata-rata mesin kurang dari 10 menit
H₀: μ ≥ 10
H₁: μ < 10

Sedangkan uji dua pihak (two-tailed test) digunakan jika peneliti hanya ingin tahu ada perbedaan atau tidak, tanpa peduli arahnya. Intinya untuk mengetahui apakah berbeda atau tidak.
Misalnya:
Seorang peneliti ingin tahu apakah rata-rata berat paket berbeda dari 80 gram.
H₀: μ = 80
H₁: μ ≠ 80
In reply to LUTHFY ULYA LAZIMA

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by DINA OLIVIA SEKAR FEBRI YANTI -
Untuk uji satu pihak (One-tailed test) itu digunakan jika peneliti sudah mempunyai dugaan arah. Intinya untuk mengetahui apakah lebih besar atau lebih kecil.
Misalnya:
Untuk uji pihak kanan
Seorang guru ingin tahu apakah rata-rata nilai matematika siswa lebih dari 75
H₀: μ ≤ 75
H₁: μ > 75

Untuk uji pihak kiri
Peneliti ingin tahu apakah waktu rata-rata mesin kurang dari 10 menit
H₀: μ ≥ 10
H₁: μ < 10

Sedangkan uji dua pihak (two-tailed test) digunakan jika peneliti hanya ingin tahu ada perbedaan atau tidak, tanpa peduli arahnya. Intinya untuk mengetahui apakah berbeda atau tidak.
Misalnya:
Seorang peneliti ingin tahu apakah rata-rata berat paket berbeda dari 80 gram.
H₀: μ = 80
H₁: μ ≠ 80
In reply to DINA OLIVIA SEKAR FEBRI YANTI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by HIKMATUL LAILA -
Nama: Hikmatul Laila
Npm: 0723012531
Secara umum penentuan apakah kita akan menguji uji satu pihak atau uji duapihak yaitu ditentukan oleh rumusan hipotesis penelitian, arah dugaan penelitian dan tujuan penelitian
Misalkan dengan tujuan penelitian yaitu:
Jika tujuan penelitian hanya ingin tahu apakah ada perbedaan secara umum (tanpa mempersoalkan lebih besar atau lebih kecil), maka hipotesis harus dirumuskan dalam bentuk uji dua pihak.
Jika tujuan penelitian ingin tahu arah perbedaan (lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai tertentu), maka hipotesis harus dirumuskan dalam bentuk uji satu pihak.
In reply to HIKMATUL LAILA

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by NURUL KHIKMAH -
Nama : Nurul Khikmah
NPM : 0723012551

Izin menjawab bu. Secara umum, cara untuk menentukan apakah menggunakan uji satu pihak atau uji dua pihak dalam uji hipotesis rataan ditentukan oleh rumusan hipotesis alternatif (H₁), yaitu arah pertanyaan atau dugaan penelitian:
- Uji Dua Pihak
Dipakai kalau cuma mau tahu beda atau tidak, tanpa peduli arahnya.
Misalnya: Apakah rata-rata nilai ujian siswa berbeda dari 70? Jadi bisa lebih besar, dan bisa juga lebih kecil.
- Uji Satu Pihak
Dipakai kalau sudah jelas hanya mau tahu ke satu arah saja.
Ada dua macam, yaitu:
1. Uji pihak kanan yaitu untuk melihat apakah rata-rata lebih besar dari nilai tertentu. Contoh: Apakah rata-rata nilai lebih dari 70?
2. Uji pihak kiri yaitu untuk melihat apakah rata-rata lebih kecil dari nilai tertentu. Contoh: Apakah rata-rata nilai kurang dari 70?
In reply to NURUL KHIKMAH

Re: Uji Hipotesis Rataan

by AMALIA FITRI -
iya betul mbak, selain itu juga bisa dilihat dari kuat tidaknya dasar teori yang diketahui. jika dasar teori sudah kuat sehingga peneliti meyakini bahwa treatment yang diberikan lebih baik daripada sebelum diberikan treatment maka peneliti menggunakan uji satu pihak. tetapi jika peneliti belum yakin karena dasar teori yang belum kuat, peneliti menggunakan uji dua pihak saja sehingga hanya menunjukkan apakah terdapat perbedaan atau tidak.
In reply to AMALIA FITRI

Re: Uji Hipotesis Rataan

by MUHAMMAD PASCAL ADDARAQUTNI -
Hanya ingin tahu ada perbedaan atau tidak menggunakan Uji dua pihak
Ada dugaan/pernyataan arah (lebih tinggi/rendah) menggunakan Uji satu pihak
Penelitian eksploratif / awal menggunakan biasanya dua pihak
Penelitian dengan teori kuat / eksperimen jelas menggunakan bisa satu pihak