Pencarian global tidak diaktifkan.
Lewati ke konten utama
Halaman

Sejarah Basis Data

Syarat penyelesaian

Basis data secara arti kata berarti Kumpulan dari data, konsep basis data itu sendiri sudah ada sebelum era komputer. Beberapa Kumpulan data secara konvensional telah dibuat oleh manusia. Bahkan dari kita hampir semua memiliki meski belum sepenuhnya menyadari bahwa itu merupakan sebuah Kumpulan data. Misalkan lemari arsip tempat tempat menyimpan catatan kesehatan, dokumen pajak, dan berbagai dokumen penting lainnya. Kumpulan data ini berkembang seiring dengan kebutuhan dan teknologi yang ada. Basis data komputer pertama dibuat pada tahun 1960-an, tetapi sejarah basis data seperti yang kita ketahui, sebenarnya dimulai pada tahun 1970.

Kelahiran database relasional

Sejarah basis data relasional diawali pada bulan Juni 1970, seorang ilmuwan komputer dari IBM bernama Edgar F. Codd menerbitkan sebuah makalah akademis berjudul, “A Relational Model of Data for Large Shared Banks”. Makalah tersebut memperkenalkan cara baru untuk memodelkan data. Makalah tersebut menguraikan cara membangun sekumpulan tabel yang saling terhubung yang memungkinkan Anda menyimpan setiap bagian data hanya sekali. Sebuah basis data dengan struktur ini dapat menjawab pertanyaan apa pun, selama jawabannya disimpan di suatu tempat di dalamnya. Konsep baru ini juga menjawab tantangan pada era itu terkait efisiensi penyimpanan. Ruang disk akan digunakan secara efisien, pada saat penyimpanan mahal. Makalah ini memberikan konsep yang penting dalam perkembangan basis data di masa depan.

Era komersil dari basis data dimulai Ketika Oracle membawa basis data relasional komersial pertama ke pasar pada tahun 1979. Hal tersebut diikuti oleh beberapa vendor seperti DB2, SAP Sysbase ASE dan Informix.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an, basis data relasional semakin dominan dalam pertumbuhan dan pengunaan basis data. Basis Data relasional memberikan indeks untuk membuat setiap kueri menjadi efisien, membuat konsep “join” tabel, istilah untuk operasi baca yang menyatukan rekaman terpisah menjadi satu, dan Transaksi, yang berarti kombinasi pembacaan dan terutama penulisan yang tersebar di seluruh basis data, merupakan konsep yang sangat penting yang ditawarkan basis data relasional. SQL atau structure query language menjadi standar bahasa data, dan pengembang perangkat lunak belajar menggunakannya untuk meminta data yang mereka inginkan, dan membiarkan basis data memutuskan cara mendapatkan dan mengirimkan data tersebut.


Munculnya database NoSQL

Basis data relasional dirancang berdasarkan asumsi bahwa basis data tersebut akan dijalankan pada satu mesin. Selain itu, basis data tersebut dirancang sebelum internet memperoleh popularitas besar. Volume data yang dapat dibuat oleh jutaan, atau miliaran, manusia dan perangkat yang terhubung dalam jaringan, jauh lebih banyak daripada yang dapat ditangani oleh satu server pada konsep relasional. Dengan adanya relasi antar tabel juga menimbulkan permasalahan dalam pengelolaan data yang sangat besar.

Ketika beban kerja menjadi begitu berat hingga tidak ada satu pun komputer yang mampu menanggung beban tersebut, dan perangkat keras termahal di pasaran pun tak mampu lagi menahan beban aplikasi, satu-satunya jalan adalah berpindah dari satu server basis data ke sekumpulan simpul basis data yang bekerja sama.

Untuk database SQL tradisional, yang dirancang untuk berjalan pada satu server, ini adalah proses yang sulit. Proses ini membutuhkan investasi waktu yang besar dan sering kali melibatkan pengorbanan yang mengorbankan banyak fitur yang awalnya menarik pengembang untuk menggunakan database relasional.

Pada akhir tahun 2000-an, basis data SQL masih sangat populer, tetapi bagi mereka yang membutuhkan skalabilitas, NoSQL telah menjadi pilihan yang layak. Google BigTable, HDFS, dan Cassandra adalah beberapa contoh basis data noSQL. Penyimpanan data NoSQL ini dibuat agar mudah diskalakan dan metoleransi kegagalan node dengan gangguan minimal. Namun, penyimpanan data ini disertai dengan kompromi dalam hal fungsionalitas, biasanya berupa kurangnya penggabungan dan transaksi, atau indeks terbatas. Ini adalah kekurangan yang harus diatasi oleh pengembang. NoSQL dapat diskalakan dengan baik, tetapi jaminan relasional dan konsistensi data sulit dipenuli.

SQL terdistribusi

Basis data SQL tradisional telah mencoba memecahkan masalah skalabilitas  dengan menambahkan fitur-fitur untuk membantu mengurangi kesulitan sharding. Pada saat yang sama, sistem NoSQL telah membangun sebagian dari fungsionalitas SQL yang hilang. Namun, tidak ada satu pun kelas basis data yang dirancang dari awal untuk memberikan jaminan transaksional dari basis data relasional dan skala basis data NoSQL.

Pada tahun 2012 Google Research menerbitkan apa yang kemudian dikenal sebagai Spanner yang memperkenalkan Google Cloud Spanner, sebuah basis data yang dirancang untuk mendistribusikan data dalam skala global dan mendukung transaksi yang konsisten. Jenis basis data baru ini dikenal sebagai SQL Terdistribusi . Ada lima kondisi yang harus dipenuhi agar basis data masuk ke dalam kategori SQL terdistribusi:

1.       skala,

2.       konsistensi,

3.       ketahanan,

4.       SQL, dan

5.       replikasi geografis.

 Kehadiran masing-masing kemampuan ini berarti bahwa beban kerja penting yang dijalankan di beberapa wilayah di dunia, dapat diakses sebagai penyimpanan data tunggal, dan dapat diskalakan hanya dengan menambahkan node ke kluster.


Terakhir diubah: Senin, 2 September 2024, 11:39