Usia mempengaruhi recovery. Atlet yang berusia lebih dari 25 tahun membutuhkan waktu istirahat lebih panjang dibandingkan atlet yang lebih muda. Atlet yang berusia dibawah 18 tahun membutuhkan periode istirahat lebih panjang diantara latihan untuk memfasilitasi terjadinya overcompensasi (Nudel 1989, Rowland 1990, Schoner- Kolb 1990). Atlet yang lebih berpengalaman akan pulih lebih cepat karena adaptasi fisiologis yang lebih cepat dan gerak yang lebih efisien (Noakes 1991).
Gender akan mempengaruhi derajat recovery. Atlet wanita cenderung mempunyai tingkat regenerasi yang lebih lambat karena perbedaan endocrinological, terutama untuk wanita yang mempunyai hormon testoteron lebih rendah (Noakes 1991, Nudel 1989, Rowland 1990, Vander at al. 1990, Zauner, Maksud, dan Melichna 1989).
Lingkungan. Termasuk pertandingan di tempat yang lebih tinggi (lebih dari 3000 meter), dimana tekanan oksigen lebih rendah (Berglund 1992), atau latihan ditempat yang sangat dingin.
Tipe serabut otot yang digunakan dalam latihan dapat mempengaruhi recovery. Serabut otot cepat cenderung lebih cepat lelah dibanding serabut otot lambat karena keterkaitan properti contractile (Fox 1984; Noakes 1991).
Type exercise dan tentunya tipe sistem energy yang dipakai mempengaruhi derajat recovery. Atlet yang berlatih daya tahan membutuhkan istirahat lebih pendek dibanding seseorang yang berlatih jarak pendek (Fox 1984; Noakes 1991).
Ketika atlet berlomba atau bertanding dinegara yang berbeda, dimana perbedaan waktunya 3 sampai 10 jam atau lebih akan mempengaruhi irama sircadian tubuh. Gejala tersebut diantaranya, rasa tidak enak badan, selera menurun, kelelahan selama siang hari, desynchronisasi fungsi berkenaan dengan ginjal (Kelebihan kalium dan sodium yang dikeluarkan menyebabkan kram otot, kelelahan yang berlebihan, sakit kepala)