LMS-SPADA INDONESIA
Sebuah masalah yang sangat signifikan dalam analisis timeline digital adalah kredibilitas. Bagaimana dapat menyatakan keabsahan sebuah timeline sangat sulit. Untuk membuat sebuah timeline sangat tergantung pada time stamps. Time stamps adalah catatan waktu dalam sebuah file ataupun sistem terhadap event atau perubahan terakhir dari file ataupun sistem tersebut. Namun time stamps itu dapat error.
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan (Eiland, 2006), Errornya time
stamp dapat
disebabkan faktor internal dan external. Faktor internal diantaranya seperti errornya setingan waktu yang ada
pada perangkat (seperti jika batrai CMOS komputer habis, maka setingan jam
tidak akan akurat) dan bisa juga perbedaan GMT dari waktu tersebut (padahal
seharusnya menggunakan GMT +7, tapi setingan malah menggunakan GMT +5).
Faktor external penyebab errornya time
stamp bisa
karena diubah oleh pelaku kejahatan. Sehingga untuk membuat catatan waktu yang
valid membutuhkan ketekunan dan kreativitas investigator.
Membuat timeline dalam setiap kasus
membutuhkan pendekatan yang berbeda. Hal ini mengakibatkan sulitnya membuat
sebuah metodologi agar timeline bisa diotomatisasi. Sehingga banyak yang
masih dilakukan secara manual dengan mengurutkan kejadian satu persatu secara
manual berdasarkan timestamps data yang ditemukan dalam barang bukti digital.
Mengkombinasikan data waktu kejadian antara time
stamps data
digital dengan waktu kejadian secara langsung (mengurutkan kejadian secara
manual seperti berdasarkan waktu laporan kejadian, keterangan saksi, pengakuan
tersangka) juga merupakan sebuah langkah untuk membuat valid timeline.
Selanjutnya
perhatian yang harus diberikan terkait sulitnya membuat timeline yang valid yaitu tidak
adanya standar baku untuk time stamps dan time stamps itu sendiri sangat mudah
dimanipulasi.
Tapi
seiring perkembangan teknologi, pembuatan timeline ini pun akhirnya jadi
semakin mudah. Contohnya software-software forensik saat sekarang
ini hampir semua sudah mempunyai fitur timeline. Namun kembali lagi pada
permasalahan diatas, yaitu timeline itu dibuat
berdasarkan time stamps dari file-file yang ditemukan dalam barang bukti digital,
dan seperti yang telah dibahas bahwa time stamps itu sendiri sangat mudah
dimanipulasi.
Masalah
selanjutnya dalam timeline ini adalah file system yang
beragam. Windows menggunakan file system sendiri dengan NTFS nya, linux menggunakan ext4 nya, dan Mac menggunakan HFS nya. Untuk ketiga file
system ini
karena populer maka sudah hampir semua software forensik dapat membaca
timestamps dari file-file yang ada didalamnya. Namun untuk file system yang
kurang populer seperti ZFS (Zettabyte File System) mempunyai masalah
tersendiri. Ini karena ZFS mempunyai struktur yang komplek untuk
penyimpanan data dan metadata nya. Ya wajar saja,
karena ZFS sendiri banyak digunakan untuk storage kelas Enterprise.
Banyak
penelitian yang telah dilakukan untuk melakukan analisis timeline di ZFS ini. Salah satunya
peneliti dari Australia, (Leigh & Shi, 2014) yang berhasil menemukan cara
untuk membuat analisis timeline pada ZFS menggunakan metadata
ZFS dan
menggunakan struktur internal ZFS sebagai sumber analisis
timeline nya. Dalam eksperimennya mereka menggunakan sistem Free BSD 9.1
dan ZFS Pool version 28. Kemudian mereka membuat 9 ZFS
Pool untuk
dilakukan ujicoba mengekstraksi metadata file-file di dalam ZFS
Pool tersebut
untuk mendapatkan time stamps nya baru kemudian dilakukan
analisis timeline nya. Namun diakhir penelitiannya, tetap saja masalah yang
dulu tetap ada. Yaitu apabila jam yang ada dalam sistem dirubah atau seseorang
melakukan manipulasi waktu, maka termanipulasi jugalah time
stamps file-file
yang ada dalam sistem tersebut.
Jika
pada sebelumnya kita berbicara tentang timeline dalam sebuah file
system dalam
komputer yang mempunyai masalah dengan jika dimanipulasinya jam dalam sistem
komputer tersebut, hal ini sedikit berbeda dengan menganalisis timeline dalam web
server. (Chandrawanshi
& Gupta, 2013) dalam penelitiannya memaparkan bahwa dalam sebuah
sistem web server, jika terjadi serangan, maka untuk menganalisisnya yang paling
terbaik yaitu dengan menggunakan log dari web
server itu. Web log files digunakan untuk
menyelidiki informasi mengenai siapa saja yang pernah mengakses web
server itu dan apa saja yang dilakukan.
Bahkan
(Chandrawanshi & Gupta, 2013) berhasil membuat tool untuk membuat timeline secara otomatis dengan
menggunakan sumber dari web log files tersebut. Dari
sumber web log files yang didapatkan, mereka melakukan analisis dengan metode
yang mereka sebut “pre-prosess dan teknik path analysis” untuk mendapatkan informasi
mengenai URL yang mengakses server tersebut. Setelah
dilakukan analisis, berikutnya mereka memvisualisasikan hasil analisis nya
sehingga timeline nya nampak dengan jelas. Adapun metodologi pre-proses dan path
analysis yang
mereka gunakan tersebut dapat dilihat dalam gambar dibawah ini.
Yang
bisa diambil simpulan di penelitian analisis timeline dalam webserver ini adalah bahwa
pelaku kejahatan tidak bisa merubah ataupun memanipulasi waktu karena semua
tercatat dalam log web server tersebut. Walaupun pelaku berhasil menembus sistem
keamanan komputer dan merubah jam yang ada di server, namun tetap akan
terbaca waktu yang sebenarnya berdasarkan log sebelumnya. Kecuali
mungkin pelaku kejahatan menghapus log tersebut, tapi
tetap saja, log itu bisa direcovery kembali menggunakan software forensik. Berdasarkan
ketiga hasil penelitian yang telah dibahas sebelumnya, dapat diambil kesimpulan
bahwa, analisis timeline sangat penting dilakukan agar dapat merekonstruksi
kejadian yang telah berlangsung. Namun pada dasarnya, masalah terbesar dalam
melakukan analisis timeline yaitu adanya manipulasi time
stamps terhadap
file-file ataupun sistem komputer. Ketika sebuah tools atau software dapat membaca time
stamps dan
mampu membuat timeline secara otomatis, namun jika ternyata time
stamps yang
ada itu telah dimanipulasi sebelumnya oleh pelaku kejahatan, maka rekonstruksi
kejadian bisa berantakan. Sehingga untuk melakukan menyusun timeline agar dapat
merekonstruksi kejadian, investigator harus mampu melakukan analisis timeline secara manual
dengan mengkombinasikan waktu kejadian berdasarkan keterangan korban dan saksi. Dalam
khayalan saya, jika teknik yang digunakan dalam melakukan analisis timeline dalam web
server bisa
juga dilakukan dalam sistem komputer secara umum, mungkin masalah manipulasi
waktu bisa diminimalisir. Maksudnya seperti ini, sistem operasi komputer
membuatkan log sistem seperti pada web server, yang mencatat semua aktivitas
yang dilakukan dalam komputer namun log tersebut harus dibuat agar tidak dapat
dihapus. Sehingga
jikapun jam pada komputer diubah, namun jika log mencatat perubahan jam
tersebut dari misalkan dari yang awalnya menggunakan GMT +7 diubah menjadi GMT
+5, maka analisis timeline akan lebih mudah dilakukan karena sudah
tahu waktu yang sebenarnya berdasarkan catatan log tersebut.
Investigator hanya tinggal menyusun ulang timeline berdasarkan log
yang digunakan tadi.