1. Prinsip Kohorensi (Coherence Principle)
Deskripsi (menurut Mayer, 2009):
Siswa belajar lebih baik ketika materi pelajaran tidak memuat kata, gambar, atau suara yang tidak relevan. Informasi tambahan yang menarik tapi tidak mendukung tujuan belajar justru meningkatkan extraneous processing (proses kognitif yang tidak perlu).
Penerapan:
Dalam video pembelajaran tentang “Proses Fotosintesis”, hindari menambahkan musik latar, efek suara, atau gambar lucu yang tidak berhubungan agar perhatian siswa tetap fokus pada proses ilmiah yang dijelaskan.
2. Prinsip Penandaan (Signaling Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik ketika petunjuk atau penanda visual maupun verbal digunakan untuk menyoroti struktur atau bagian penting dari materi. Signaling membantu mengarahkan perhatian dan mengurangi kebingungan.
Penerapan:
Dalam video tentang “Sistem Pencernaan”, tambahkan panah bergerak atau warna kuning pada organ yang sedang dijelaskan seperti “lambung” atau “usus halus”.
3. Prinsip Redundansi (Redundancy Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi dibanding dari gambar, narasi, dan teks tertulis yang sama secara bersamaan.
Mayer menegaskan bahwa teks yang sama dengan narasi hanya menambah beban pada visual channel.
Penerapan:
Ketika menjelaskan aliran darah menggunakan animasi, gunakan suara narator untuk menjelaskan — hindari menampilkan teks panjang yang dibacakan bersamaan.
4. Prinsip Kontiguitas Spasial (Spatial Contiguity Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik ketika teks dan gambar yang saling berhubungan ditempatkan berdekatan daripada terpisah jauh.
Hal ini memudahkan otak mengintegrasikan informasi visual dan verbal secara bersamaan.
Penerapan:
Dalam diagram sistem tata surya, letakkan label “Bumi” tepat di dekat gambar planetnya, bukan di daftar teks terpisah di bawah halaman.
5. Prinsip Kontiguitas Temporal (Temporal Contiguity Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik ketika narasi dan visual yang saling terkait disajikan secara bersamaan, bukan secara terpisah (misalnya, narasi setelah gambar).
Hal ini membantu integrasi simultan antara saluran audio dan visual.
Penerapan:
Dalam animasi tentang “Peredaran Darah”, tampilkan visual darah yang mengalir bersamaan dengan penjelasan suara, bukan setelahnya.
6. Prinsip Segmentasi (Segmenting Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik ketika pelajaran kompleks dibagi menjadi segmen-segmen pendek yang dapat dikendalikan kecepatan belajarnya.
Segmentasi membantu pengelolaan essential processing agar tidak membebani kapasitas kerja otak.
Penerapan:
Video tentang “Fotosintesis” dibagi menjadi beberapa bagian: (1) penyerapan cahaya, (2) pembentukan glukosa, (3) penyimpanan energi — dengan tombol “next” untuk berpindah antar bagian.
7. Prinsip Modalitas (Modality Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi audio dibanding dari gambar dan teks tertulis.
Hal ini karena teks tertulis dan gambar sama-sama membebani saluran visual, sedangkan narasi memanfaatkan saluran auditori.
Penerapan:
Gunakan suara narator untuk menjelaskan animasi pergerakan planet daripada teks panjang di layar.
8. Prinsip Multimedia (Multimedia Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar dibanding dari kata-kata saja.
Kombinasi dua bentuk ini membantu integrasi representasi verbal dan visual di memori kerja.
Penerapan:
Dalam pembelajaran “Siklus Air”, tampilkan gambar awan, hujan, dan laut sambil memberikan penjelasan singkat dengan teks atau suara.
9. Prinsip Personalisasi (Personalization Principle)
Deskripsi:
Siswa belajar lebih baik ketika narasi menggunakan gaya bahasa percakapan dibanding gaya formal.
Pendekatan ini meningkatkan generative processing karena terasa lebih akrab dan memotivasi.
Penerapan:
Gunakan narasi seperti: “Sekarang kita lihat bagaimana air berubah menjadi uap, ya!”
Daripada: “Proses ini disebut evaporasi.”