Global searching is not enabled.
Skip to main content
Forum

Diskusi 4

Tugas Pertemuan 4

Tugas Pertemuan 4

by AULYA RIZKY MAULIDINA - Number of replies: 0

Nama              : Aulya Rizky Maulidina

NIM                : 230121601076

Universitas     : UM

 

Prinsip-Prinsip Multimedia Menurut Richard E. Mayer

Prinsip-prinsip ini didasarkan pada Teori Kognitif Pembelajaran Multimedia (Cognitive Theory of Multimedia Learning) yang bertujuan untuk mengurangi beban kognitif (cognitive load) yang tidak perlu dan memaksimalkan pemrosesan informasi.

Prinsip

Deskripsi

Pengaplikasian (Contoh)

1. Koherensi (Coherence)

Pembelajaran lebih efektif ketika kata-kata, gambar, atau suara yang tidak relevan atau berlebihan dikeluarkan daripada dimasukkan. Intinya: Singkirkan materi yang tidak penting.

Dalam video pembelajaran tentang fotosintesis, hindari menggunakan musik latar yang menarik perhatian atau gambar-gambar dekoratif yang tidak berhubungan dengan proses kimia.

2. Signaling

Pembelajaran lebih baik ketika diberikan isyarat atau petunjuk yang menyoroti organisasi materi esensial. Intinya: Fokuskan perhatian pada informasi kunci.

Gunakan teks tebal, warna, panah, atau highlight pada poin-poin penting dalam teks di layar, atau gunakan nada suara yang berbeda pada narasi untuk menekankan konsep utama.

3. Redundancy

Pembelajaran lebih baik dari grafis dan narasi, dibandingkan dari grafis, narasi, dan teks di layar secara bersamaan (terutama ketika narasi adalah verbatim dari teks di layar). Intinya: Hindari pengulangan informasi dalam tiga saluran (visual teks, visual grafis, audio narasi).

Dalam video, gunakan grafis (animasi) dan suara (narasi), tetapi jangan menambahkan teks di layar yang sama persis dengan yang dinarasikan. Teks di layar hanya boleh ada jika sangat singkat, untuk label, atau ketika tidak ada narasi.

4. Spasial Kontiguitas (Spatial Contiguity)

Pembelajaran lebih baik ketika kata-kata yang relevan disajikan secara fisik dekat dengan gambar yang sesuai di halaman atau layar. Intinya: Tempatkan teks dan gambar terkait berdekatan.

Label bagian-bagian diagram atau peta harus diletakkan langsung di samping atau menunjuk dengan jelas ke bagian yang dideskripsikan, bukan diletakkan jauh di bawah diagram.

5. Temporal Kontiguitas (Temporal Contiguity)

Pembelajaran lebih baik ketika kata-kata yang relevan disajikan secara simultan (bersamaan) dengan gambar yang sesuai. Intinya: Sinkronkan narasi dengan munculnya elemen visual yang dijelaskan.

Dalam animasi, pastikan narasi yang menjelaskan suatu tahapan proses terjadi tepat pada saat tahapan tersebut ditampilkan di layar, bukan sebelum atau sesudahnya.

6. Segmentasi (Segmenting)

Pembelajaran lebih baik ketika materi disajikan dalam segmen-segmen kecil yang dapat diatur oleh pelajar, bukan sebagai satu blok besar yang berkelanjutan. Intinya: Pecah materi panjang menjadi bagian-bagian yang dapat dikontrol.

Pada e-learning, sediakan tombol "Berikutnya" atau jeda (pausing) di antara sub-topik. Pada video, pecah video panjang menjadi beberapa video pendek atau berikan daftar isi dengan timestamp.

7. Modality

Pembelajaran lebih baik dari grafis dan narasi (spoken words), dibandingkan dari grafis dan teks di layar (on-screen text). Intinya: Gunakan saluran audio untuk informasi verbal dan saluran visual untuk gambar.

Saat menjelaskan proses yang kompleks dengan visual, gunakan narasi (suara) untuk menjelaskan, daripada hanya menaruh semua penjelasan dalam bentuk teks panjang di layar (yang bersaing dengan visual).

8. Multimedia

Pembelajaran lebih baik dari kata-kata dan gambar, dibandingkan dari kata-kata saja. Intinya: Kombinasikan visual dan verbal.

Saat menjelaskan konsep abstrak (misalnya, Hukum Newton), gunakan gambar, diagram, atau animasi selain teks atau narasi untuk menggambarkan konsep tersebut.

9. Personalisasi (Personalization)

Pembelajaran lebih baik ketika kata-kata disajikan dalam gaya percakapan yang informal dan ramah (conversational) daripada gaya yang terlalu formal. Intinya: Gunakan bahasa yang lebih santai dan personal.

Dalam narasi, gunakan bahasa seperti "Anda akan melihat bahwa..." atau "Mari kita bahas" serta sesekali menggunakan kata sapaan (you, we), alih-alih bahasa yang kaku dan pasif.