Global searching is not enabled.
Skip to main content
Forum

Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

Number of replies: 54

Sebuah tim pengembang sedang merancang aplikasi “SehatKita”, platform layanan kesehatan digital yang menyediakan fitur pendaftaran pasien, konsultasi daring, dan akses riwayat medis. Pada tahap awal, tim diminta membuat wireframe digital sebagai rancangan antarmuka utama. Menurut Anda, bagaimana cara desainer menentukan tata letak, hierarki informasi, dan elemen navigasi agar wireframe tersebut tidak hanya fungsional, tetapi juga mudah dipahami dan menarik bagi pengguna dari berbagai usia?

In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MUHAMMAD JABBAR SYAHRIAL REZA -
Menurut pendapat saya jika ingin mengembangkan penjelasan terhadap suatu aplikasi berdasarkan poin poin di atas yaitu Menerapkan design clarity dan hierarki interaksi adalah kuncinya. Untuk aplikasi "SehatKita", ini berarti wireframe harus secara aktif "menuntun" pengguna.

Misalnya, pada fitur Pendaftaran Pasien, kita gunakan white space, bukan hanya untuk memberi jarak, tapi untuk memecah formulir yang panjang dan rumit menjadi langkah-langkah kecil yang terasa ringan di tiap layar. Ini langsung mengurangi rasa "berat" atau intimidasi saat mendaftar.

Kemudian, untuk Konsultasi Daring, hierarki interaksi sangat jelas: begitu login, tombol "Mulai Konsultasi" harus jadi elemen visual paling dominan di dashboard. Ini penting karena pengguna mungkin sedang cemas atau sakit dan butuh akses super cepat ke fitur utama. Fitur lain seperti artikel harus secara visual "mengalah".

Terakhir, pada Akses Riwayat Medis, wireframe harus menunjukkan navigasi bawah yang jelas—ikon wajib disertai label teks "Riwayat". Di dalamnya pun, kita harus terapkan kejelasan dengan sub-navigasi atau filter yang jelas seperti "Resep Obat" atau "Hasil Lab", agar pengguna dari usia berapa pun tidak perlu "berburu" informasi penting mereka.
In reply to MUHAMMAD JABBAR SYAHRIAL REZA

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by RADITYA NAUFAL IRSYAD -
Kalau desainer mau bikin wireframe “SehatKita” biar fungsional tapi juga gampang dipahami, pertama mereka harus mikirin urutan informasi yang paling penting buat pengguna, misalnya tombol daftar, konsultasi, dan riwayat medis ditaruh di posisi yang gampang dijangkau. Tata letaknya dibuat simpel, nggak rame, biar pengguna dari berbagai umur bisa langsung ngerti tanpa mikir lama. Navigasinya juga harus jelas, misalnya pakai ikon umum kayak rumah untuk beranda atau dokter untuk konsultasi. Intinya, desainer perlu ngejaga keseimbangan antara kejelasan, konsistensi, dan kesederhanaan biar wireframe-nya tetap enak dilihat dan gampang digunakan.
In reply to MUHAMMAD JABBAR SYAHRIAL REZA

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Selain itu, menyertakan sketsa atau diagram wireframe sederhana akan memperkuat argumen Anda, karena pembaca dapat lebih mudah membayangkan alur interaksi yang diusulkan.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MALVINO FAIZ RADITYA -
Menurut saya, desainer perlu menyeimbangkan antara fungsi dan kenyamanan pengguna. Tata letaknya harus sederhana agar tidak membingungkan, terutama bagi pengguna lanjut usia, tapi tetap terlihat modern agar menarik bagi pengguna muda. Hierarki informasi sebaiknya dibuat jelas—fitur utama seperti pendaftaran dan konsultasi harus langsung terlihat di halaman depan. Elemen navigasi juga penting dibuat konsisten dan mudah dijangkau, misalnya tombol besar dengan ikon yang mudah dikenali. Dengan begitu, wireframe “SehatKita” bisa membantu pengguna dari semua kalangan merasa nyaman dan cepat memahami cara menggunakannya.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by SITI NURLAELA -
Menurut saya,Desainer perlu mulai dengan memahami kebutuhan dan kebiasaan pengguna dari berbagai usia melalui riset sederhana. Setelah itu, tata letak dibuat dengan struktur yang jelas—misalnya menempatkan menu utama di bagian bawah atau samping yang mudah dijangkau. Gunakan hierarki visual seperti ukuran huruf, warna, dan ikon untuk menonjolkan informasi penting. Navigasi harus konsisten dan mudah diikuti, dengan label yang sederhana dan tidak teknis. Selain itu, pastikan ruang antar elemen cukup lega agar nyaman digunakan, terutama bagi pengguna lanjut usia.
In reply to SITI NURLAELA

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Kedepannya Ketika Menjawab Forum analisis atau pharafrase dahulu kalimat dari AI
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by RHIO ISMA RIZKY AZIZ -
Menurut saya saat merancang design wireframe, tidak bisa asal menggambar kotak-kotak. Prosesnya jauh lebih mendalam, dan kuncinya cuma satu yaitu Empati.
dengan langkah:
1. Pahami Siapa Penggunanya, Bukan "Semua Orang"
2. Tentukan "Mana yang Paling Mendesak" (Hierarki Informasi)
3. Buat design yang Familiar dan Anti Nyasar (Navigasi & Tata Letak)
4. Fokus pada Fungsi, Bukan Warna (Inti dari Wireframe)
yang pada akhirnya kunci dari wireframe digital yang sukses untuk aplikasi "SehatKita" bukanlah estetika atau kekinian. Kuncinya adalah kejelasan dan kemudahan.
In reply to RHIO ISMA RIZKY AZIZ

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
cobalah memperdalam contoh konkret, seperti bagaimana setiap langkah hierarki informasi diterapkan, atau bagaimana navigasi dibuat intuitif untuk berbagai tipe pengguna.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by SONIA SONIA -
Untuk merancang wireframe aplikasi “SehatKita”, desainer perlu memahami dulu siapa pengguna utamanya dan bagaimana mereka berinteraksi dengan teknologi. Karena aplikasi ini ditujukan untuk berbagai usia, tampilan harus sederhana, jelas, dan tidak membingungkan.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menentukan tata letak dengan mengutamakan alur penggunaan yang mudah diikuti. Elemen-elemen penting seperti menu pendaftaran, konsultasi, dan riwayat medis sebaiknya ditempatkan di posisi yang mudah dijangkau, misalnya di bagian tengah atau bawah layar untuk pengguna ponsel. Tampilan yang rapi dan konsisten akan membantu pengguna memahami fungsi setiap bagian tanpa perlu banyak penjelasan.
Dalam hal hierarki informasi, desainer perlu menonjolkan informasi utama dengan ukuran tulisan, warna, atau posisi yang berbeda. Misalnya, tombol untuk memulai konsultasi bisa dibuat lebih besar atau berwarna kontras agar langsung menarik perhatian pengguna.
Kemudian untuk navigasi, gunakan ikon dan istilah yang familiar bagi semua umur. Hindari istilah teknis medis yang rumit, cukup gunakan kata-kata sederhana seperti chat dokter, daftar pasien, atau riwayat. Setelah itu, lakukan uji coba kepada pengguna dari berbagai usia. Dari hasil uji ini, desainer bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki agar tampilan lebih mudah dipahami.
In reply to SONIA SONIA

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Selanjutnya, bisa ditambahkan contoh konkret tampilan atau sketsa wireframe agar ide lebih mudah dipahami dan dapat diuji secara praktis.”
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by EZRA FIRMANSYAH -
Menurut saya, agar wireframe aplikasi “SehatKita” mudah dipahami dan menarik bagi pengguna dari berbagai usia, desainer harus memperhatikan tata letak, hierarki informasi, dan elemen navigasi dengan cermat.

Tata letak perlu disusun secara rapi dan seimbang menggunakan grid, dengan ruang kosong yang cukup agar tampilan tidak terasa padat. Elemen penting seperti tombol pendaftaran atau konsultasi sebaiknya ditempatkan di posisi yang mudah terlihat, misalnya di bagian atas atau tengah layar.

Hierarki informasi harus jelas, dengan ukuran teks, warna, dan posisi yang membedakan antara informasi utama dan tambahan. Fitur yang paling sering digunakan, seperti “Konsultasi” atau “Riwayat Medis”, harus lebih menonjol agar pengguna langsung tahu fokus utama aplikasi.

Sementara itu, elemen navigasi perlu dibuat sederhana dan konsisten di setiap halaman, menggunakan ikon dan label teks yang mudah dikenali. Hal ini penting agar pengguna dari berbagai usia tidak bingung saat berpindah fitur.
In reply to EZRA FIRMANSYAH

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Anda bisa menambahkan contoh visual atau wireframe sederhana untuk menunjukkan penerapan konsep tersebut secara konkret, sehingga ide lebih mudah dipahami dan dapat diuji langsung oleh pengguna.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ARWIS HILAL RAMADHAN -
Menurut saya, dalam membuat rancangan wireframe aplikasi “SehatKita”, desainer harus mikirin supaya tampilannya gampang dipahami semua orang. Pertama, posisi tombol dan menu harus ditata rapi dan nggak berantakan. Misalnya, tombol untuk daftar atau konsultasi ditaruh di tempat yang mudah dilihat dan diklik. Kemudian, tampilan jangan terlalu ramai, kasih jarak antar elemen biar enak dilihat. Kedua, urutan informasi juga penting. Bagian yang paling sering dipakai, seperti pendaftaran pasien atau konsultasi online, harus kelihatan duluan dan lebih menonjol, bisa dari ukuran tulisan atau warna. Ketiga, menu navigasi harus sederhana dan gampang dikenali, contohnya ada ikon rumah buat “Beranda”, pesan buat “Konsultasi”, dan orang buat “Profil”. Warna tampilan juga jangan terlalu mencolok, cukup lembut biar nyaman dilihat, baik buat orang tua maupun anak muda. Intinya, tampilan “SehatKita” harus rapi, jelas, dan gampang dipakai tanpa bikin bingung pengguna.
In reply to ARWIS HILAL RAMADHAN

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Penting dalam wireframe: kesederhanaan, hierarki informasi, dan navigasi yang intuitif. Selanjutnya, bisa ditambahkan contoh visual atau sketsa wireframe agar ide ini lebih konkret dan memudahkan implementasi desain secara nyata.”
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by NAYLA RAINA NAZHIRAH -
Pandangan saya, sebaiknya menekankan aspek kenyamanan dan kemudahan bagi pengguna ketika merancang wireframe untuk aplikasi SehatKita. Tata letaknya harus dirancang dengan rapi dan terorganisir, seperti dengan meletakkan menu utama di tempat yang mudah diakses. Hierarki informasi perlu diatur mulai dari fitur paling krusial, misalnya pendaftaran dan konsultasi, sehingga pengguna segera paham langkah awalnya. Navigasi dibuat simpel menggunakan ikon dan teks yang mudah dipahami, agar tidak menimbulkan kebingungan, khususnya untuk yang belum terbiasa dengan teknologi. Melalui desain yang bersih, seragam, dan tidak berlebihan, wireframe akan terasa lebih praktis sekaligus menarik bagi berbagai kelompok usia.
Desainer bisa mulai dengan membuat user flow yang simpel untuk paham langkah-langkah yang bakal dilalui pengguna, contohnya dari login hingga konsultasi. Setelah itu, buat sketsa awal tata letak pakai aplikasi kayak Figma supaya bisa lihat posisi elemen penting seperti menu, tombol, dan form. Untuk nentuin hierarki informasi, desainer perlu taruh fitur utama di bagian yang paling gampang terlihat, sementara info tambahan bisa ditempatkan di bawahnya. Navigasi dibuat pake ikon dan teks yang konsisten di setiap halaman agar pengguna tidak bingung. Terakhir, lakukan uji coba ke beberapa orang dari berbagai usia untuk pastiin tampilan wireframe mudah dipahami dan nyaman digunakan.
In reply to NAYLA RAINA NAZHIRAH

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
contoh visual atau prototype awal menggunakan Figma untuk menguji tata letak dan navigasi secara nyata.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MARVIEL DAVID -
Menurut pendapat saya, Desainer bisa ngatur tampilan dan urutan informasi dengan fokus ke pengguna, biar semua orang dari berbagai umur gampang pakainya. Caranya, bikin tampilan yang simpel dan rapi, pakai ikon dan tulisan yang jelas, terus tempatkan menu atau tombol utama di posisi yang mudah ditemukan. Tampilkan info penting di bagian paling terlihat, pakai warna yang nyaman di mata, dan tambahkan elemen visual yang gampang dipahami supaya tampilan aplikasinya tetap enak dilihat, mudah dimengerti, dan menarik buat pengguna.
In reply to MARVIEL DAVID

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
cobalah membuat sketsa wireframe atau prototype awal agar ide tata letak, ikon, dan elemen visual bisa diuji secara nyata. Dengan begitu, desain akan lebih terukur dan benar-benar mudah digunakan oleh semua kelompok umur.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MICHAEL MARSHALL -
menurut saya untuk membuat wireframe SehatKita yang mudah dipahami semua usia dengan memakai layout berbasis grid yang rapi, meletakkan fitur utama di bagian atas, dan memberi ruang kosong agar tampilan tidak penuh. Hierarki informasi ditentukan dengan menonjolkan fitur yang paling sering dipakai menggunakan ukuran font yang jelas, warna tombol yang kontras, serta ikon yang mudah dikenali sambil mengelompokkan informasi yang saling terkait. Navigasi dibuat sesederhana mungkin, cukup 4–5 menu di bottom bar dengan ikon dan teks agar mudah digunakan oleh pengguna muda maupun lanjut usia. Intinya, wireframe harus simpel, jelas, dan diuji ulang sampai benar-benar nyaman dipakai.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MUHAMMAD ZIDHAN FADILLAH -
Untuk merancang wireframe "SehatKita" yang dapat diterima semua kalangan, seorang desainer sebaiknya berfokus pada kejelasan dan kemudahan, bukan sekadar estetika. Agar wireframe "SehatKita" mudah digunakan oleh siapa saja, fokus utamanya harus pada kejelasan dan kemudahan. Desainer sebaiknya membayangkan pengguna yang mungkin sedang tidak sehat dan butuh solusi cepat; mereka tidak punya waktu untuk bingung.Oleh karena itu, fitur terpenting seperti "Konsultasi Dokter", "Riwayat Medis", atau "Pendaftaran" harus dibuat paling menonjol dan mudah ditemukan, idealnya langsung terlihat begitu aplikasi dibuka.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MUHAMMAD RIZAL -
dalam merancang wireframe untuk aplikasi “SehatKita”, hal terpenting adalah membuat tampilan yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami oleh semua pengguna, baik muda maupun tua. Desainer sebaiknya menata elemen antarmuka dengan rapi menggunakan tata letak yang terstruktur, misalnya dengan menempatkan tombol utama seperti Konsultasi Dokter atau Daftar Pasien di bagian yang mudah dijangkau. Tampilan jangan terlalu padat biarkan ada ruang kosong agar pengguna bisa fokus pada informasi yang penting.

Selain itu, informasi di dalam aplikasi perlu disusun berdasarkan tingkat kepentingannya. Teks yang lebih besar atau berwarna kontras bisa digunakan untuk hal-hal utama, seperti nama fitur atau jadwal konsultasi, sedangkan detail tambahan dibuat lebih kecil. Setiap fitur juga sebaiknya memiliki ikon dan label yang mudah dikenali agar pengguna tahu fungsi masing-masing tombol tanpa harus menebak.

Untuk navigasi, sebaiknya gunakan menu bawah (bottom navigation bar) dengan ikon yang umum seperti rumah untuk beranda, kalender untuk jadwal, dan profil untuk data pasien. Tombol-tombol ini harus cukup besar dan disertai teks agar mudah digunakan, terutama oleh pengguna lanjut usia. Bahasa yang digunakan juga harus sederhana dan tidak banyak istilah medis yang membingungkan.

Dengan cara seperti itu, wireframe “SehatKita” tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga terasa ramah dan mudah dipahami semua kalangan, sehingga pengguna bisa mengakses layanan kesehatan digital dengan nyaman dan tanpa kebingungan.
In reply to MUHAMMAD RIZAL

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Penjelasan Anda sangat baik karena menekankan kesederhanaan, hierarki informasi, dan navigasi yang ramah pengguna lintas usia. Untuk lebih kuat, bisa ditambahkan contoh visual atau sketsa wireframe agar konsep tata letak dan ikon lebih mudah dipahami dan diuji secara praktis.”
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by WISNU WIDYA PRADANA -

saya memiliki pandangan agak berbeda terkait hal ini, untuk aplikasi "SehatKita", kita sebaiknya tidak berfokus pada usia pengguna, melainkan pada kondisi psikologis mereka. Alasan saya, fokus pada usia seringkali menjebak kita pada stereotype. kita berasumsi pengguna muda pasti melek teknologi dan pengguna lansia pasti bingung. Padahal dalam konteks kesehatan, seorang pengguna berusia 25 tahun yang sedang panik mencari pertolongan darurat, bisa memiliki keterbatasan kognitif yang sama dengan pengguna 65 tahun yang kebingungan. Saat cemas atau sakit, kemampuan kognitif dan kesabaran semua orang akan menurun, berapapun usianya.

Karena itu, bagi saya, di aplikasi kesehatan hanya ada dua kondisi utama: pengguna sedang cemas atau sakit, atau pengguna sedang tenang (misalnya, mendaftar atau cek riwayat). Cara pandang ini akan langsung menentukan desainnya. Hierarki informasinya harus langsung menonjolkan fitur untuk pengguna cemas; tombol "Mulai Konsultasi" harus menjadi elemen visual paling dominan di layar. Untuk tata letak, seperti pada fitur pendaftaran, kita harus memecah formulir yang panjang menjadi langkah-langkah yang sangat singkat per layar agar tidak membebani. Terakhir, navigasinya harus menerapkan prinsip "nol tebakan". Menggunakan navigasi bawah (tab bar) yang familiar, dan yang terpenting, wajib sertakan label teks di bawah setiap ikon agar tidak ambigu.

Bagi saya, mendesain untuk 'pengguna panik' adalah stress test terbaik untuk wireframe aplikasi kesehatan. Jika desain kita bisa menuntun orang yang sedang cemas, maka desain itu secara otomatis akan terasa sangat mudah dan aman bagi pengguna tenang dari kalangan manapun.

In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ISMAWATI ISMAWATI -
Menurut saya, dalam merancang wireframe aplikasi “SehatKita”, desainer harus memahami alur utama pengguna seperti pendaftaran, konsultasi, dan akses riwayat medis agar tata letak yang dibuat benar-benar mudah digunakan. Tata letak sebaiknya sederhana dan familiar, dengan navigasi utama ditempatkan di posisi yang mudah dijangkau. Hierarki informasi perlu dibuat jelas dengan menonjolkan fitur penting, misalnya tombol “Konsultasi” atau “Daftar Pasien”, serta memanfaatkan ukuran teks, warna, dan ikon untuk membedakan tingkat kepentingan. Elemen navigasi juga harus ringkas dan menggunakan ikon serta label yang mudah dipahami oleh semua usia. Dengan begitu, wireframe yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga nyaman, mudah dimengerti, dan ramah bagi semua pengguna.
In reply to ISMAWATI ISMAWATI

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Selanjutnya, menambahkan contoh visual atau sketsa wireframe akan membantu memperjelas konsep dan mempermudah pengujian kenyamanan penggunaan.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by RIANDO MUHAMAD SUBAKTI -
Menurut pandangan saya sebagai mahasiswa, merancang wireframe untuk aplikasi "SehatKita" adalah tantangan menarik karena harus menjembatani kebutuhan pengguna yang sangat beragam, dari anak muda yang melek teknologi hingga lansia yang mungkin baru belajar menggunakan smartphone. Kunci utamanya adalah empati; kita tidak bisa mendesain hanya berdasarkan apa yang kita anggap keren, tapi apa yang benar-benar bisa dipakai oleh mereka.
In reply to RIANDO MUHAMAD SUBAKTI

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Tantangan Menarik, Namun menurut anda apa pembuktian bahwa kunci utamanya Empati
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by WARDAH HAMIDAH OKTAVIA -
Menurut saya, dalam merancang wireframe SehatKita, desainer harus menata tampilan secara sederhana dan rapi, menonjolkan fitur utama seperti pendaftaran dan konsultasi, serta membuat navigasi yang jelas dan mudah dipahami. Tampilan juga perlu menggunakan ikon dan teks yang besar agar nyaman digunakan oleh semua usia.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MUHAMAD ADITYA SAPUTRA -

Jika saya yang merancangnya, saya akan memastikan wireframe "SehatKita" memprioritaskan kejelasan dan aksesibilitas universal dengan menerapkan tata letak yang bersih dan konsisten yang memanfaatkan white space untuk mengurangi beban kognitif. Hierarki informasi akan dibuat sangat lugas, menempatkan fitur inti seperti "Mulai Konsultasi" sebagai elemen visual yang paling dominan di layar. Sementara itu, navigasi akan mengikuti pola standar industri (seperti bottom tab bar) dengan label teks yang eksplisit dan non-jargon, memastikan kemudahan penggunaan bagi pengguna dari berbagai latar belakang usia.

In reply to MUHAMAD ADITYA SAPUTRA

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Bagaimana Anda menyeimbangkan kejelasan visual dengan ergonomi fisik pengguna?
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ABDI SOLEH ROSADI -
Menurut saya sih, desainer “SehatKita” harus mikir dari sudut pandang penggunanya dulu bu — siapa yang bakal pakai aplikasinya dan gimana kebiasaan mereka. Karena penggunanya bisa dari anak muda sampai orang tua, layout-nya mesti simpel dan gampang dimengerti. Menu utama kayak “Daftar Pasien”, “Konsultasi”, dan “Riwayat Medis” sebaiknya nongol di tempat yang gampang dijangkau, misalnya di bagian bawah layar. Info penting kayak jadwal dokter atau status pendaftaran harus langsung kelihatan di halaman depan, biar orang nggak perlu klik sana-sini buat nyari. Intinya, tampilannya harus logis, ringkas, tapi tetap terasa akrab.

Kalau dari sisi idealis mah ya, wireframe itu bukan cuma urusan bikin kotak dan garis doang — tapi soal gimana desain bisa bikin orang ngerasa nyaman dan percaya diri. Desain yang keren tuh nggak harus ribet; cukup bersih, pakai ikon yang gampang dipahami, dan bahasa yang hangat. Jadi pas orang buka aplikasi “SehatKita”, mereka langsung ngerti cara pakainya tanpa harus mikir keras. Biar kesannya bukan aplikasi “serius banget kek Pemerintah”, tapi lebih ke temen digital gitu yang bantu jaga kesehatan dengan cara yang santai tapi tetap profesional.
In reply to ABDI SOLEH ROSADI

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Kedepan ketika anda menjawab forum jangan lupa untuk pharafrase Kalimat yang dikutip dari AI
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by BRIGITA JUNIATI MENDROFA -
menurut saya dalam proses perancangan wireframe digital untuk aplikasi “SehatKita”, desainer perlu memperhatikan tiga aspek penting yaitu tata letak, hierarki informasi, dan elemen navigasi. Tujuan utamanya adalah agar rancangan antarmuka tidak hanya terlihat rapi dan menarik, tetapi juga mudah digunakan oleh pengguna dari berbagai kalangan usia.

Pertama, pada bagian tata letak, desainer sebaiknya menggunakan struktur yang sederhana dan konsisten agar pengguna dapat dengan mudah memahami posisi setiap elemen. Penggunaan grid layout akan membantu menjaga kerapian, sementara penerapan white space memberikan ruang agar tampilan tidak terlihat padat. Elemen-elemen penting seperti menu utama atau tombol aksi sebaiknya diletakkan di area yang mudah dijangkau mata pengguna.

Kedua, dalam menentukan hierarki informasi, desainer harus mampu menonjolkan elemen yang paling penting dengan mengatur ukuran, warna, dan posisi secara proporsional. Misalnya, tombol “Konsultasi Daring” dapat dibuat lebih besar atau menggunakan warna kontras agar langsung menarik perhatian. Selain itu, penggunaan ikon dan label yang jelas juga penting untuk membantu pengguna, terutama bagi yang sudah berusia lanjut, agar dapat memahami fungsi setiap fitur tanpa kebingungan.

Selanjutnya, untuk elemen navigasi, desainer perlu menerapkan sistem navigasi yang intuitif dan mudah digunakan. Contohnya, penggunaan bottom navigation bar dengan ikon-ikon universal seperti rumah untuk beranda atau dokter untuk konsultasi akan memudahkan pengguna berpindah antarhalaman. Navigasi yang konsisten di setiap halaman akan menciptakan pengalaman yang nyaman dan mengurangi potensi kesalahan pengguna.

Selain itu, desainer juga perlu mempertimbangkan aspek aksesibilitas dengan memilih kombinasi warna yang memiliki kontras tinggi, ukuran huruf yang mudah dibaca, serta bahasa yang sederhana dan tidak terlalu teknis. Hal ini penting agar aplikasi dapat digunakan oleh semua kalangan, baik anak muda maupun pengguna lanjut usia. Terakhir, proses usability testing perlu dilakukan untuk memastikan bahwa rancangan wireframe benar-benar mudah dipahami dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

nah, jadi dengan menerapkan prinsip clarity (kejelasan), consistency (konsistensi), dan simplicity (kesederhanaan), desain wireframe aplikasi “SehatKita” akan menjadi lebih fungsional, menarik, dan ramah bagi seluruh pengguna.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANISSA ANISSA -
Menurut saya, saat merancang wireframe "SehatKita", kuncinya adalah jangan bikin pengguna mikir keras, karena yang pakai 'kan dari yang muda sampai yang senior. Desainer harus mengutamakan fungsi di atas gaya yang "wah". Untuk menu navigasi, cara paling aman adalah pakai tab bar yang ada di bawah layer seperti aplikasi kebanyakan dan yang terpenting, setiap ikon wajib ada tulisannya. Misalnya, jangan cuma gambar stetoskop, tapi tulis jelas "Konsultasi". Lalu, soal tata letak, apa yang paling penting (misalnya tombol "Mulai Konsultasi") harus dibuat besar, jelas, dan ditaruh paling atas biar langsung kelihatan. Selebihnya, desainnya harus dibuat "lega" dengan banyak ruang kosong agar tidak sumpek, dan info-info sejenis dikelompokkan dalam "kartu-kartu" yang rapi. Intinya, kalau pengguna paling awam saja paham, berarti desainnya berhasil.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by YUNITA YASMAN -
Menurut saya, untuk menciptakan wireframe "SehatKita" yang fungsional dan mudah dipahami oleh semua usia, desainer harus memulainya dengan menentukan tata letak yang menggunakan pola visual yang sudah familiar seperti F-shaped atau Z-pattern dan grid system yang konsisten untuk menata elemen dengan rapi. Hierarki informasi kemudian perlu ditetapkan dengan jelas melalui variasi ukuran font, kontras warna, dan pemberian ruang kosong (white space) agar konten prioritas—seperti tombol konsultasi darurat—langsung menonjol. Selanjutnya, elemen navigasi harus dirancang intuitif, misalnya dengan menu bawah (bottom navigation) berlabel teks pada setiap ikon dan tombol yang berukuran besar untuk memudahkan interaksi, khususnya bagi pengguna lansia. Yang terpenting, menurut saya, seluruh rancangan ini harus divalidasi melalui pengujian langsung dengan pengguna dari berbagai kelompok umur untuk memastikan keseimbangan yang tepat antara kesederhanaan dan kelengkapan fitur, sehingga aplikasi tidak hanya menarik secara visual tetapi juga benar-benar mudah digunakan oleh siapa pun.
In reply to YUNITA YASMAN

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Kedepan ketika anda menjawab forum jangan lupa untuk pharafrase Kalimat yang dikutip dari AI
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA KAYLA PUTRI -
Dalam merancang wireframe aplikasi SehatKita, desainer perlu mengatur tata letak, hierarki informasi, dan elemen navigasi agar tampilan mudah digunakan oleh semua kalangan. Tata letak sebaiknya sederhana dan terstruktur, dengan posisi fitur utama seperti pendaftaran pasien dan konsultasi daring di area yang mudah dijangkau. Hierarki informasi harus disusun berdasarkan prioritas kebutuhan pengguna, misalnya dengan membedakan ukuran teks atau warna untuk menonjolkan elemen penting. Navigasi juga perlu konsisten dan dilengkapi ikon serta teks agar mudah dipahami oleh pengguna dari berbagai usia. Selain itu, aspek aksesibilitas seperti kontras warna, ukuran huruf, dan kemudahan sentuhan tombol perlu diperhatikan. Dengan demikian, wireframe tidak hanya fungsional, tetapi juga intuitif dan nyaman digunakan oleh semua pengguna.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by FITO AJI PRASETYO -
Menurut saya desainer harus menentukan tata letak, hierarki, dan navigasi dengan cara:
1. Mengutamakan tujuan utama pengguna
2. Mengatur informasi secara bertingkat agar tidak membingungkan
3. Menggunakan navigasi sederhana yang konsisten
4. Menyesuaikan ukuran teks, warna, dan bahasa agar ramah untuk semua usia
5. Melakukan uji coba cepat untuk melihat apakah wireframe benar-benar dipahami pengguna
Dengan pendekatan ini, wireframe “SehatKita” tidak hanya fungsional, tetapi juga nyaman dan mudah digunakan oleh siapa pun.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by RADITYA JUNIAR DINATA -
Untuk merancang wireframe aplikasi SehatKita, desainer perlu menentukan tata letak, hierarki informasi, dan navigasi dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan bagi semua usia. Tata letak biasanya dibuat dengan grid agar elemen tertata rapi, memiliki ruang yang cukup, dan tidak terlihat padat sehingga mudah dipahami, terutama oleh pengguna yang kurang terbiasa dengan teknologi. Hierarki informasi disusun dengan menonjolkan tiga fitur utama pendaftaran pasien, konsultasi daring, dan riwayat medis melalui ukuran teks, warna, dan posisi yang lebih mencolok agar pengguna langsung mengetahui fungsi yang paling penting. Sementara itu, navigasi dirancang sederhana dengan menu bawah (bottom navigation) yang berisi ikon dan label teks agar mudah dijangkau dan tidak menimbulkan kebingungan. Bahasa yang dipakai pun dibuat singkat dan jelas. Desainer juga memastikan tombol besar, teks mudah dibaca, serta warna lembut dengan kontras yang baik agar nyaman dipakai oleh anak muda maupun lansia. Terakhir, wireframe diuji secara sederhana kepada beberapa pengguna untuk memastikan alur penggunaan jelas dan mudah diikuti sebelum masuk ke tahap desain visual.
In reply to RADITYA JUNIAR DINATA

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Selain itu, pertimbangkan juga mekanisme feedback interaktif (misal: notifikasi atau indikator progres) untuk memastikan pengguna selalu tahu status tindakan mereka dalam aplikasi.”
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by DIMAS HERMAWAN -
Desainer perlu memahami kebutuhan pengguna terlebih dahulu, lalu menempatkan elemen utama seperti menu, tombol pendaftaran, konsultasi, dan riwayat medis pada posisi yang mudah dijangkau. Informasi disusun dari yang paling penting ke pendukung, misalnya akses konsultasi ditempatkan di bagian tengah atau teratas agar langsung terlihat. Navigasi dibuat sederhana dengan label jelas, ikon familiar, serta alur yang konsisten antar-halaman. Ukuran teks dan kontras warna dijaga agar nyaman bagi semua usia, sementara elemen visual dibuat minimalis untuk menghindari distraksi, sehingga wireframe tetap fungsional dan mudah dipahami.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by SUKUR SUKUR -
Untuk membuat wireframe yang efektif, menurut saya desainer harus mengutamakan kejelasan dan konsistensi dengan menempatkan fungsi utama pada area yang paling mudah dijangkau di layar, memperjelas hierarki informasi dengan ikon yang bisa menunjukkan fungsi menu tanpa membaca teksnya, memilih warna yang lembut dan menghindari warna yang terlalu mencolok agar tidak mengalihkan fokus pengguna, serta membuat navigasi yang sederhana tetai masih menjangkau secara lengkap seperti Home, Konsultasi, Riwayat, dan Profil agar pengguna dari berbagai usia dapat memahami aplikasi tanpa perlu menghafal menu tersebut.
In reply to SUKUR SUKUR

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Selain itu, mempertimbangkan feedback interaktif seperti highlight atau notifikasi saat tombol ditekan akan semakin meningkatkan pengalaman pengguna.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by MUHAMAD KRISNA BAYU -
Menurut saya, desainer harus membuat wireframe "SehatKita" dengan tata letak yang simpel, jelas, dan konsisten. Gunakan icon dan teks familiar, navigasi di bawah agar mudah dijangkau, serta font dan warna yang nyaman dibaca semua usia. Urutkan informasi dari yang paling penting, lalu uji coba ke beberapa pengguna berbeda umur supaya hasilnya benar-benar mudah dipahami dan fungsional.
In reply to MUHAMAD KRISNA BAYU

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Penjelasan Anda terlalu umum dan masih terdengar seperti daftar saran tanpa detail konkret. Misalnya, apa ukuran tombol yang dianggap ‘mudah dijangkau’? Bagaimana hierarki informasi diterapkan secara visual? Tanpa contoh sketsa atau ilustrasi, ide ini sulit dinilai atau diimplementasikan. Ke depannya, jangan hanya menulis konsep secara verbal tunjukkan penerapannya secara nyata agar wireframe benar-benar bisa dievaluasi.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by DOMINICO SALVATORE MOAT AMFOTIS -
Menurut pendapat saya secara pribadi, yang perlu dilakukan pertama kali adalah memetakan target market berdasarkan usia, karena dengan memetakan pengguna berdasarkan usia, tim pengembang dapat menentukan desain aplikasi yang cocok dengan kebutuhan mereka. kedua adalah mencari referensi, mencari referensi UI UX dari berbagai macam sumber seperti behance, pinterest, dribble atau platform lain, pastikan referensi tersebut sesuai dengan target market.. selain itu tim juga dapat melihat aplikasi sejenis (1 niche) untuk dapat mempelajari secara terukur seperti apa UI UX brenchmark lain yang sudah sukses. Semua referensi tersebut perlu dimuat dalam sebuah canvas figma, untuk dijadikan moodboard. setelah moodboard jadi, saatnya tim melakukan pembuatan style guide, dan coba untuk memulai design wireframe, dengan desain yang sesuai dengan style guide dan moodboard yang sudah dibuat.
In reply to DOMINICO SALVATORE MOAT AMFOTIS

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by ANITA RATNASARI -
Sebagai Masukan,bisa ditambahkan contoh konkret bagaimana hasil riset diterapkan langsung pada desain wireframe.
In reply to First post

Re: Forum Pertemuan 7 (Dosen : Anita Ratnasari)

by NURUL AISYA DARAMASE KOTTA -
Desainer biasanya mulai dengan menyusun tata letak yang sederhana dan mudah dikenali, misalnya judul halaman di bagian atas, konten utama di tengah, dan menu navigasi di bawah. Informasi yang paling penting seperti daftar pasien, konsultasi, dan riwayat medis (dibuat lebih menonjol agar langsung terlihat). Navigasinya dibuat jelas dengan ikon dan teks yang mudah dipahami semua usia, serta tombol yang cukup besar dan tidak terlalu rapat. Tujuannya agar pengguna bisa menemukan fitur utama tanpa bingung dan merasa nyaman saat menggunakan aplikasi.